Telusuri

Memuat...

Sekapur Sirih



0 komentar


Saya sempat menyesali begitu lama pengerjaan skripsi saya. Lima semester. Sehingga harus memperpanjang babak studi. Tetapi penyesalan itu luluh setelah penguji dan pembimbing mengesahkan skripsi saya tentang orkestrasi diskursus pemberitaan seputar pertambangan migas Blok Cepu di Bojonegoro. Mereka menyarankan, ia bisa dikembangkan ke tahap publikasi seperti buku dan jurnal.

Lamanya masa pengerjaan skripsi lantaran saya memiliki keterlibatan fisik, emosi, dan intelektual (beuuh..!) dengan isu pertambangan migas di Bojonegoro, daerah kelahiran saya. Persoalan industri migas di Bojonegoro, bagi saya, melampaui sebagai topik penelitian. Industri ekstraktif migas yang berdampingan dengan masyarakat agraris merupakan ekspansi kapitalisme yang dampaknya—negatif maupun positif—ikut saya rasakan. Sehingga, sengaja atau tidak, saya mengesampingkan target-target teknis penelitian.

Skripsi saya merupakan ikhtiar mendokumentasikan pengetahuan tentang gema diskursus dari satu fragmen transformasi corak produksi agraris ke industri ekstraktif migas. Pendekatannya lewat analisis framing pemberitaan media lokal, dengan memakai konteks bahwa pertambangan migas dimaknai sebagai berkah sekaligus kutukan. Ia berusaha mengulas bagaimana pemberitaan tabloid Blok Bojonegoro membingkai isu seputar pertambangan migas Blok Cepu dan bergema dalam diskursus publik. Ulasan itu lantas saya tarik ke dalam analisis mengenai posisi normatif media dalam demokrasi dan penerapan prinsip-prinsip jurnalisme dalam pemberitaan. Dengan begitu, saya berusaha tetap menapaki jalur konsentrasi studi saya pada kajian media dan jurnalisme.

Meski demikian, tentu bukan berarti saya telah berhasil menuntaskan karya akademik secara sempurna, terutama dari segi metodologi. Penelitian skripsi saya menerapkan analisis framing yang masih sederhana dari segi kompleksitas dan pemutakhiran metodologis sebagaimana telah dielaborasi oleh para pengkaji media. Maka, jikapun ada yang harus saya sesali, seharusnya saya mengerjakan karya akademik itu secara lebih baik dan komprehensif.

Saya memohon maaf sekaligus berterima kasih kepada dosen pembimbing skripsi, Dr. Kuskridho Ambardi, M.A. Beliau telah bersabar menunggu progresi pengerjaan skripsi saya sejak akhir 2012 hingga akhir 2014. Tanpa pertanyaan dan amatan logika ilmiah dari Mas Dodi, skripsi saya tak akan layak disebut karya akademik. Pengerjaannya merupakan episode kesekian belajar bernalar ilmiah bareng Mas Dodi. Sepulang Mas Dodi dari Ohio, saya segera mengikuti kuliah-kuliahnya. Beliau juga sempat membimbing penelitian saya dan Ofa tentang interaktivitas lini masa politisi muda, dalam skema hibah riset Fakultas. Proses itu membimbing kami untuk menyusun karya akademik dengan kerangka logika ilmiah.

Foto by Qotrun Nada
Terima kasih juga kepada dua penguji, Dr. Novi Kurnia, M.Si., M.A. dan Mufti Nurlatifa, SIP., M.A. Mbak Novi berkomentar bahwa skripsi saya rapi dan mudah dibaca. Sementara Mbak Ipeh mengatakan, penulis dan skripsinya “sangat menjiawi” isu yang diulas. Mereka lantas menunjukkan unsur-unsur detail metodologis yang perlu ditambahkan. Saya merasa lega.

Skripsi saya tak akan saya kerjakan secara bergairah tanpa keterbukaan dan keakraban para subyek penelitian. Terima kasih kepada Mas Abdul Qohhar dan keluarga besar blokBojonegoro Media, Kang Ahmad Taufiq dan Mas Anas AG dari Radar Bojonegoro, Kang Gito Citrapati beserta keluarga Suara Banyuurip (Kang Samian, Mbah Win, dan Athok), serta Mas Joko Purwanto dari Bojonegoro Institute. Obrolan-obrolan hangat bareng mereka meyakinkan saya untuk terus mendalami isu dan pemberitaan seputar pertambangan migas.

Pada akhir 2012, Fahri Salam dari Pantau merekomendasikan saya untuk mengikuti seleksi program pendidikan jangka pendek bertema “Media, Mining and Development: Regional knowledge-sharing” di Australia. Meski tema itu terkait erat dengan riset skripsi, saya sempat ragu mengirimkan aplikasi. Konsekuensinya, bila diterima, tentu bakal menunda pengerjaan skripsi. Saya meminta pertimbangan Mas Darmanto, teman diskusi dan main futsal. Dia menyarankan untuk mengambil rekomendasi Pantau. Beruntung, saya diterima. Programnya berlangsung dalam rentang Agustus–September 2013, diselenggarakan oleh lembaga pengembangan jurnalisme Asia Pasicif Journalism Centre (APJC) yang berkantor di Melbourne, dalam skema beasiswa Australian Leadership Award. Saya semakin terpacu memperkaya pengetahuan tentang isu dan pemberitaan seputar pertambangan. Terima kasih kepada Yayasan Pantau, APJC, dan fellows program khususnya dari Indonesia (Wan Ulfa, Tommy Apriando, Duma Sanda, Dian Hamna). Juga kepada Mas Darmanto yang telah mengirimkan bacaan-bacaan bergizi tentang pertambangan minyak.

Di luar teks, skripsi saya berkemungkinan tidak memenuhi tenggat babak perpanjangan pertama tanpa dorongan dari Drs. Budhy K. Zaman, M.Si. selaku Ketua Program Studi S1 Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Saya menghaturkan terima kasih kepada Cak Budhy dan dosen-dosen lain yang selama kuliah menjadi teman diskusi: Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, M.Si., Mas Wisnu Martha Adiputra, SIP., M.Si., Mas Syafrizal, Prof. Nunung Prajarto, dan Mas Ahmad Nyarwi Ph.D candidate. Juga untuk Mas Bari yang selalu sabar melayani urusan administrasi akademik.

Tantangan mahasiswa tua adalah gairah ngampus. Syukurlah, rekan-rekan sejurusan dan seangkatan 2007 yang “menolak kadaluwarsa” cukup kompak. Bareng rekan setim babak perpanjangan—Addin, Rina, Ronny, Imam, Dwi, Tiara, Dhery—pengurusan administrasi akademik di kampus jadi bersemangat. Terima kasih juga untuk rekan-rekan lain sejurusan yang lulus lebih awal.

Penyelesaian skripsi saya sangat terbantu oleh program kecil “Tuentin Qarantino”. Bersama dua karib seperjuangan, Ofa dan Wawan, dengan pendukung setia Nabila dan Laras, kami mendisiplinkan diri untuk menulis skripsi secara intensif sampai rampung. Ni’am, redaktur Jurnal Wacana dari InsistPress, berbaik budi menyediakan diri sebagai mentor. Program berjalan sekira tiga bulan. Skripsi tiga peserta lantas disidangkan pada hari yang sama, 23 Desember 2014. Kami punya keterikatan pikiran dan batin yang telah terajut sejak bergiat di pers kampus Balairung, lantas berlanjut di Komunitas Kembang Merak—dan semoga seterusnya, dalam karya dan persahabatan. We rock, comrades! Terimakasih juga kepada keluarga Balairung lain: Putra, Iyan, Rifky, Ghofur, Farid, Wisnu, Jamsoy, Iwan, Gading, Kirana, Hesti (terima kasih “semangat” & J-nya), dan semua yang pernah belajar bareng.

Dari kiri-belakang: Ulum, Kana, Mada, Laras, Nabila, Aip, Nurman, Michell. Trio di depan: Ofa, Wawan, saya. Foto by Qotrun Nada
Marsen Sinaga, Hanny Wijaya, dan Azhar Irfansyah, tiga kawan diskusi sekaligus sandaran lahir dan batin sebagian hidup saya di Jogja. Bersama mereka, saya tidak hanya bisa mengerjakan skripsi ini, tetapi juga berpengalaman dalam kerja-kerja kebaikan, dalam solidaritas Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (terima kasih Mas Wid dan Mas War) yang menjalar ke solidaritas Forum Komunikasi Masyarakat Agraris, melebar ke solidaritas buruh TransJogja, hingga mengkristal dalam solidaritas Credit Union Gerakan Lingkar Massa. Terima kasih dan solidarity first! untuk kawan-kawan di lingkaran-lingkaran itu: Ferry, Kus, Al, Ferdhi, Suluh, Windu, Dicky, Gembul, Jana, Corry, Sansan.

Pengerjaan skripsi saya juga memiliki utang budi kepada pasangan sakinah Fahri dan Astutik Kashmi. Fahri adalah teman belajar menulis bukan saja dalam aspek teknis tetapi juga prinsip (menulis harus rendah hati!). Dari Mbak Tutik yang berafiliasi dengan LBH Yogyakarta, saya mengenal kerumitan advokasi hukum. Melebihi itu, mereka tidak hanya memberikan tempat, tetapi juga meluangkan “rumah” bagi sebagian pengerjaan skripsi saya.

Saya juga harus menyampaikan terima kasih kepada keluarga kecil sanggar belajar alternatif Society Education Centre di Bojonegoro: Agus Samin, Agus Salim, Arif, Koko, Nuril, Sodikin, Opec, Nurul, Imam, Afif. Juga kepada keluarga besar Ikatan Mahasiswa Bojonegoro-Jogja (IMaGo): Danang, One, Arip, Gigih, Argi, Addin. Dari aktivitas bareng dua keluarga itulah ide skripsi saya muncul.

Melampaui itu semua, skripsi dan studi saya mustahil terlaksana tanpa dukungan dan doa tak terhingga dari Ibuk Hj. Siti Chotijah, Bapak H. Dasan, Nenek Wasinten, Kakek Giman (alm.), Kang Mas Arif Abdullah dan Mbak Tia. Juga untuk Kakek-Nenek di Bogangin. Darah mereka mengalir di setiap karakter naskah ini. Teruntuk harapan besar saya, Bestari Anastasia, skripsi saya persembahkan.

Usai menulis skripsi, saya segera menemukan keluarga kecil baru: Mas Tarli, Mas Mahfud, dan Ofa (lagi), dalam frekuensi penelitian pemikiran ekonomi (politik) Indonesia. Terima kasih kepada keluarga baru yang segera menjaga saya untuk tetap berkecimpung di ranah akademik.

Saya berharap skripsi saya bermanfaat bagi subyek penelitian saya dan pembaca. Saya bertanggung jawab terhadap isinya. Dan semoga tidak menjadi karya akademik terakhir saya.

Mohon doanya.

Yogyakarta, Januari 2015


0 komentar:

newer post older post