Telusuri

Memuat...

Mudik Lebaran



0 komentar
I
Di sebelahku pemuda mengenakan celana-jeans-tiga-perempat dengan atasan kaos merah berlapis rompi-jeans-biru-beremblem komunitas schooter. Terselempang di badannya tas kecil coklat. Aku melirik dua pin tersemat di sana. Satu pin putih bertuliskan “Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesenian FARKES”, sau pin merah muda bertuliskan “BURUH BEKASI BERGERAK”.

Kami berada di mobil travel Jogja-Bojonegoro. Pagi itu Jumat, 26 Juli 2014, beberapa hari jelang lebaran 1935 H. Waktu tempuh normal Jogja-Bojonegoro sekira tujuh jam. Beberapa menit setelah mobil meluncur, pemuda itu mengeluarkan ponsel beserta headset dari tas kecilnya. Sebelum ia memasang headset ke kuping, aku memulai obrolan. “Mudik ke Bojonegoro, mas?” tanyaku. “Iya, mas,” jawabnya. Kami berkenalan.

Namanya Yusuf. Ia buruh pabrik farmasi di Bekasi. Hendak mudik ke kampungnya di Ngasem, Bojonegoro, ia mampir ke tempat kakaknya di Jogja. Yusuf bendahara Farkes. Sepanjang perjalanan, Ia cerita pengalaman di dunia perburuhan, terutama serikat buruh. Setelah aktif sebagai pengurus serikat buruh di pabriknya beberapa tahun belakangan, Yusuf mengaku sudah tiga kali dimutasi bagian. Yusuf juga sering mendapat tekanan dari atasan maupun dari rekan-rekan sejajarnya di pabrik. Tak lama setelah mutasi terakhirnya, atasannya bilang bahwa sebenarnya kariernya di pabrik bakal bagus kalau nggak ikut-ikutan serikat; sayang juga kalau nanti ditengah jalan kena PHK. Ia bantah, serikat buruh dilindungi undang-undang, nggak ada yang boleh melarang. Soal karir baginya adalah soal rejeki. Yang ngasih rejeki bukan atasannya atau pabrik, tapi gusti Allah. Kepada rekan-rekannya yang sering menggembosi semangatnya mengorganisir buruh, Yusuf berdoa semoga rejeki mereka barokah 

II
Sore jelang petang di hari ke-28 Ramadhan yang biasa disebut orang Jawa malem sanga. Ari datang ke rumah, menyampaikan undangan kenduri di rumah pakdhenya lepas Magrib nanti. Ia mengenakan kemeja gelap lengan panjang dan kopyah hitam. Usianya beberapa tahun saja di bawah usiaku. Dulu kami sering main bola bareng di lapangan kampung. Serampungnya dari STM, Ari bekerja di Surabaya. Sore itu, sebelum Ari meneruskan keliling kompleks kampung, kami ngobrol sebentar.

Pertama kali merantau ke Surabaya, Ari mburuh di pabrik perhiasan. Lokasinya di sekitar pantai Kenjeran, dekat jembatan Suramadu. Menurut Ari, semua buruh kasar di pabriknya itu bekerja dengan sistem borongan, termasuk dia. Beberapa bulan lalu, Ari dan ratusan buruh lainnya diberhentikan. Saat itu buruh kasar di pabriknya mencapai 400-an. Ari belum kenal dunia serikat buruh, belum merasa menjadi anggota serikat manapun. Saat diberhentikan itu, ia diminta bayar ke orang yang katanya ketua sebuah serikat buruh. “Untuk iuran katanya,” pungkasnya.

Beberapa bulan ini Ari bekerja di pengelasan, bikin pagar besi dan sebagainya. Siapa yang mau memberikan pendidikan perburuhan—tentang hak-hak buruh—kepada para buruh seperti Ari kalau bukan serikat buruh?

III
Hari kedua lebaran. Seorang kawan yang usianya lebih tua beberapa tahun dariku mengajakku mengunjungi temannya perempuan di kampung sebelah. Rumah mbaknya besar dan megah. Garasinya terbuka. Mobil SUV parkir di dalamnya.

Tak lama setelah kami bertiga ngobrol di ruang tamu, bapak dan ibu mbaknya nimbrung. Beberapa kerabat yang datang menyapa orang tua mbaknya dengan sebutan haji. Pak Haji seorang pengepul tembakau dan beras. Pak Haji cerita sudah beberapa tahun ini meninggalkan tembakau. Ia psimis dengan masa depan tembakau. Sebuah pabrik rokok besar di Jawa Timur katanya sudah tidak lagi jalin kerjasama dengan petani di Bojonegoro dan mengimpor tembakau. Kini ia fokus ke beras. Ia jalin kontrak dengan Bulog untuk menyuplai beras. Setahun terakhir Ia menyuplai sekira 4000 ton beras ke gudang Bolog di Surabaya. Bojonegoro memang produsen gabah papan atas di Jawa Timur. Selain kirim ke Bulog, Pak Haji juga menyuplai beberapa penjual eceran di Jogja dan Bandung.

Di tengah kesuksesannya berbisnis beras, Pak Haji ragu atas kahalalan rejekinya karena didapatkan dengan menyetor Rp30 per kilogram beras-yang-disetor-ke-Bulog ke petugas Bulog. Untuk meyakinkan kehalalan rejekinya, Pak Haji menganggap sogokan Rp30 per kilogram beras itu sebagai bagi-bagi untung 

IV
Mbah Man suka menggunakan metafor dalam obrolan. Menjadi muslim yang masih memegang nilai-nilai filosofis Jawa, ia jadi sandaran moril handai-taulan terkait berbagai persoalan hidup keseharian. Malam kedua lebaran kami bersilaturrahmi ke rumahnya.

“Wong endonesa ki cen seneng ribut. Israel perang karo Gaza ya melu ombyong-ombyong. Pak SBY kudu ngene, presiden kudu ngene,” Mbah Man mengomentari berita di televisi (Orang Indonesia memang suka ribut. Israel menyerang Gaza pada ikut meributkan). “Tapi eneng sing isa kaji ping lima, sebelahe suwale amoh ora isa ganti ya meneng wae,” Mbah Man meneruskan (Tapi ada orang yang bisa naik haji sampai lima kali, sebelah rumahnya ada orang yang pakaiannya sudah rombeng nggak bisa ganti, diam saja).

Mbah Man berpesan kepada kerabatnya, jangan ada yang ikut-ikutan ribut pilplres. Ia bilang, tak satupun dari 6666 ayat Alquran yang memerintahkan ikut partai politik. “Awake dewe iki ibarate sandal jepit, nek ora ana digoleki, nek ana diidaki.” (Kita ibarat sandal jepit, kalau tidak ada dicari, kalau ada diinjak). Rakyat jelata 

0 komentar:

newer post older post