Telusuri

Memuat...

Ketegangan Pilkades di Ladang Emas Hitam



0 komentar
Pertambangan migas Blok Cepu mengalirkan deras uang dan proyek pembangunan desa di sekitarnya. Ia pun memicu ketegangan pemilihan kepala desa yang belum pernah dirasakan warga sebelumnya.

Beberapa orang bergerombol di persimpangan-persimpangan jalanan desa wilayah Kecamatan Gayam, kawasan pertambangan migas Blok Cepu. Mereka berjaga-jaga mengawasi orang-orang keluar masuk kampung. Hari itu, tiga hari ke depan pemilihan kepala desa (pilkades) enam desa, separuh dari seluruh desa Kecamatan Gayam, digelar serentak. Desa Gayam, Mojodelik, Braboan, Bonorejo, Katur, dan Sudu.

Beberapa hari menjelang pilkades itu saya mengikuti aktivitas liputan wartawan media lokal kawasan Blok Cepu Suara Banyuurip. Suatu malam saat melintasi jalanan desa, salah satu wartawan dibuntuti warga kampung. Setelah bertemu, si wartawan bilang, “Mosok nggak mengenali motorku, kok nganggo dibuntuti.” Spionase terhadap “orang asing” seperti ini biasa dilakukan oleh warga kampung menjelang pilkades. Si wartawan bilang begitu karena merasa sudah akrab dengan mereka. Setelah saling sapa, pemuda kampung kembali ke pos mangkal mereka.

Meskipun pilkades pada umumnya memicu suasana tegang, ketegangan pilkades tahun ini cukup panas dibandingkan pilkades periode-periode sebelumnya. Pilkades tahun ini merupakan pilkades pertama bagi desa penghasil migas dan sekitar kawasan pertambangan migas Blok Cepu sejak hiruk-pikuk proyek Blok Cepu menggeliat sejak 2008 lalu. Pilkades kali ini juga kali pertama bagi enam desa itu setelah Kecamatan Gayam dibentuk 2011 silam. Seorang calon dari desa penghasil migas Lapangan Banyuurip—lapangan utama Blok Cepu—mengungkapkan bahwa ketegangan pilkades semacam ini belum pernah dirasakan sebelumnya.
***
Untuk pembangunan infrastrukturnya saja, proyek eksploitasi Blok Cepu mengalirkan investasi skitar Rp40 triliun. Investasi itu digulirkan untuk mengoperasikan lima paket Engeneering, Procurement and Construction (EPC) yang meliputi pembangunan Central Processing Facilities (CPF); pemasangan jalur pipa darat (onshore) aliran minyak 20 inchi sepanjang 72 km dari CPF menuju bibir pantai Palang, Tuban; pemasangan jalur pipa aliran minyak bawah laut (offshore) sepanjang 32 km dan pembangunan menara tambat (mooring tower); pembangunan tangki raksasa terapung untuk penampungan minyak dan bongkar muat (floating storage offloading/FSO); dan pembangunan sarana pendukung seperti perkantoran, jalan layang, akses air, dan waduk.

Dimulai sejak 2011 lalu, lima paket EPC ditarget rampung dalam tiga tahun. Rampungnya lima paket EPC inilah yang menjadi prasyarat tercapainya puncak produksi Blok Cepu yang dipatok 265.000 barel per hari 2014 ini.

Sebagian uang itu berputar di kampung-kampung sekitar proyek. Uang dan aktivitas terkait eksploitasi migas kini meramaikan kehidupan kampung yang dulunya hanya berdenyut dari sektor agrikultur. Bercocok tanam dan beternak kini terkesan menjadi aktivitas minor di sini.

Jalanan kampung kini penuh dengan hilir mudik orang-orang proyek. Jalanan kampung yang dulu dilewati warga pulang-pergi ke sawah, mencari rumput dan pakan ternak, dan anak-anak sekolah, kini padat dengan kendaraan proyek.

Selain tenaga kerja dari luar, beberapa warga kampung beralih profesi dari sektor agrikultur ke profesi lain terkait industri migas. Kuli bangunan, satpam, penjaga persimpangan jalan, supir truk. Banyak juga yang memanfaatkan keramaian untuk buka warung. Yang punya modal mendirikan perusahaan macam CV untuk ikut proyek.

Selain diramaikan dengan pembangunan infrastruktur pertambangan migas, desa-desa ini juga digairahkan dengan pembangunan infrasturktur publik. Jalan, tempat ibadah, sekolah, balai desa, tandon air bersih, jamban, lapangan sepakbola, puskesmas. Pembangunan non-fisik juga sering diselenggarakan. Pengembangan peternakan, koperasi, usaha kreatif, pengobatan gratis, beasiswa, perpustakaan desa. Dana bersumber dari program pengembangan masyarakat dari kontraktor pertambangan migas maupun dari dana desa.

Ada perkiraan semua pembangunan itu tidak akan berjalanan lama. Proyek pembangunan desa yang sangat banter selama ini kadang dinilai hanya untuk melancarkan proyek lima paket EPC. Ketika semua infrastruktur pertambangan telah tersedia, hiruk-pikuk pembangunan desa diprediksi semakin lengang.

Tetapi, mengapa pilkades di sini begitu tegang hingga para calon merogoh kocek milirian rupiah? Seorang calon kades Desa Gayam berujar, salah satu rivalnya bermodal sekitar Rp4 Milliyar.

Pertambangan migas, selain mengusung pembangunan tersebut di atas, mengalirkan dana segar berupa Alokasi Dana Desa (ADD). ADD merupakan dana yang dialokasikan oleh Pemerintah Kabupaten untuk desa-desa, yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten. Salah satu sumber dana perimbangan itu adalah Dana Bagi Hasil (DBH) migas.

Di level daerah, salah satu variabel pembagian jatah ADD didasarkan pada kawasan sumber daya alam. Dalam peraturan pembagian jatah ADD (Peraturan Bupati Nomor 31/2009 tentang Pedoman Penetapan Alokasi Dana Desa Proporsional  Berdasarkan Koefisien Variabel Kawasan Di Kabupaten Bojonegoro, yang telah diubah dengan Perbup Nomor 47/2010) disebutkan mana desa-desa penghasil SDA migas, kehutanan, dan pertambangan umum; mana desa-desa ring I-nya; dan mana desa-desa ring II-nya. Desa penghasil SDA dan desa yang masuk kawasan ring menerima ADD lebih besar dari desa pada umumnya. Dan migas merupakan SDA paling bernilai di Bojonegoro dibanding kehutanan dan pertambangan umum.

Enam desa di Kecamatan Gayam yang menggelar pilkades serentak 2 Februari lalu seluruhnya mencakup desa penghasil migas Blok Cepu, yakni Mojodelik; masuk kawasan ring I, yakni Gayam, Braboan, Bonorejo, dan Katur; dan masuk kawasan ring II, yakni Sudu. Untuk tahun lalu saja, Mojodelik menerima ADD Tahap I sebesar Rp673,272 juta, terbesar dari 419 desa di Bojonegoro, diikuti dua desa di Kecamatan Kapas penghasil migas Lapangan Sukowati yang masuk wilayah Blok Tuban, yakni Campurrejo dan Ngampel yang sama-sama menerima Rp640,815 juta. Jumlah itu tiga kali lipat dari rata-rata ADD Tahap I 2013 untuk 419 desa sebesar RP 205,451 juta.

Sebagaimana dilaporkan wartawan Radar Bojonegoro Tonny Ade Irawan di blognya (tonnyadeirawan.blogspot.com), menurut keterangan Kabag Humas dan Protokol Kabupaten Bojonegoro Hari Kristianto, Bojonegoro merupakah salah satu dari dua kabupaten yang menyalurkan DBH migas hingga level desa. Jumlah ADD tersebut diperoleh dari perhitungan berikut: 12,5 persen DBH dibagikan melalui ADD; 60 persen dari 12,5 persen itu dibagikan merata ke seluruh desa; 40 persennya dibagikan ke desa-desa penghasil migas sebesar 12,5 persen, desa ring I 10 persen, desa ring II 7,5 persen, dan sisanya 70 persen dibagikan ke seluruh desa non ring.  

Ketika puncak produksi tercapai, seiring naiknya DBH, nilai ADD bakal semakin besar. Belum lagi nanti ditambah alokasi ADD dari 10 persen APBN sebagaimana amanat UU Desa yang baru saja disahkan.  
***
Lamat-lamat saya teringat roman Gadis Pantai karya Pramodya Ananta Toer (terbit pertama 1962). Salah satu bagian cerita roman itu mengisahkan bagaimana emas yang datang tiba-tiba ke kampung memicu ketegangan bahkan kekacauan kehidupan kampung nelayan. Perhiasan emas yang dibawa tokoh utama roman tersebut, Gadis Pantai, sebagai selir bangsawan di kota, memancing menyusupnya para perompak, memicu rasa saling curiga warga kampung, hingga menyulut konflik sesama tetangga.

Dua malam jelang pilkades digelar, saya dan dua wartawan Suara Banyuurip nongkrong di sebuah warung kopi di pinggiran desa sekitar kawasan Blok Cepu, setelah seharian berburu kabar. Terletak di antara deretan tempat parkir para pekerja proyek pertambangan, warung kopi itu berada beberapa meter saja dari pagar kawasan Lapangan Banyuurip Blok Cepu.

Setelah disapa oleh seorang kawan wartawan, seorang pengunjung bercerita kalau ia sengaja nongkrong di warung kopi tersebut lantaran menghindari ketegangan di kampungnya. Beberapa warung kopi di tengah kampungnya telah dijadikan basis dukungan calon kades; warung A tempat pendukung jago A, warung B tempat pendukung calon B. Bahkan ia sendiri berkonflik dengan saudara kandungnya lantaran berbedaan jago. Kakaknya memaksanya untuk pindah mendukung calon yang didukung kakaknya. Ia tak mau, karena itu urusan pribadi dan kebebasan berpendapat. Ia sendiri mengaku jengah dengan ketegangan dan konflik itu. “Dibelani tukaran karo dulur, karo tonggo dewe, sing menang yo jagone, sing dadi lurah yo jagone, bar yo bar,” begitu katanya.

Pernyataan itu mengisyaratkan makna bahwa percuma kita bertengkar dengan saudara dan tetangga demi dukungan ke salah satu calon kepala desa, toh calon lah yang bakal menjadi “pemenang”. “Pemenang” di sini bukan saja berarti memenangkan perolehan suara, tetapi kemenangan atas sebuah jabatan dan kekuasaan yang akan mementukan akses dan arus proyek pembangunan desa. Sementara pilkades selesai, ya selesai; warga tetaplah warga biasa.

0 komentar:

newer post older post