Telusuri

Memuat...

Narasi Perlawanan Petani Pesisir Selatan



1 komentar
Judul         : Menanam Adalah Melawan!
Penulis       : Widodo
Penerbit     : PPLP-KP dan Tanah Air Beta, 2013
Tebal         : x + 160 halaman

“Kalau petani sudah berhenti menanam, buat apa menolak tambang. Karena perlawanan sesungguhnya berada di lahan.” –Anonim–


Suatu siang di penghujung Februari 2013, di bawah terik matahari, ratusan petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Lahan Pantai Kulon Progo (PPLP-KP) menggelar majelis istighostah. Tahlil dan selawat mengumandang bersama desiran angin dan gemuruh ombak Pantai Selatan. Esok paginya, 1 Maret, petani pesisir Kulon Progo memulai tanam perdana. Lahan pasir diguyur air tawar dari sumur-sumur di tengah lahan.Wineh cabai ditancapkan.

Menanam, kerja petani ini mungkin tampak biasa bagi kebanyakan orang. Tetapi tidak bagi petani pesisir Kulon Progo, menanam adalah melawan. Cabai yang dibariskan rapi, berjajar tegak itu adalah simbol menolak tambang pasir besi. Menanam Adalah Melawan(PPLP-KP dan Tanah Air Beta, 2013) pun ditahbiskan sebagai judul catatan harian seorang petani pesisir Kulon Progo yang juga koordinator eksternal PPLP-KP, Widodo.


Narasi dan Kemandirian Perlawanan yang Menyublim

Jika diskursus seputar narasi isu maupun perlawanan basis agraris dipenuhi oleh laporan peneliti, pengamat, atau aktivis outsiders, maka Menanam Adalah Melawan (selanjutnya ditulis MAM) saya maknai sebagai narasi langka di tengah diskursus itu. MAM hadir mengisi kelangkaan narasi isu yang ditulis sendiri oleh pelaku. Di tengah diskursus perlawanan petani pesisir Kulon Progo terhadap tambang pasir besi, MAM menyublim bersama semangat kemandirian perlawanan yang diusung mereka. Ia adalah narasi sekaligus semangat kemandirian. Begitulah pertama dan terutama saya harus menempatkan MAM.

Tulisan di MAM bisa dibagi menjadi tiga bagian: catatan harian penulis sebagai narasi utama; epilog oleh George Junus Aditjondro; dan Lampiran yang berisi wawancara zineBertani Atau Mati dengan Widodo dan Suratimen istri Tukijo, surat-surat solidaritas, pers rilis, laporan analisis produksi pertanian PPLP-KP dan naskah teater Unduk Gurun “Prahara Kulonkono”. Bagian pertama berisi tiga belas tulisan Widodo. Semangat kemandirian merasuk di setiap tulisan, berupa pilihan-pilihan sadar yang melatarbelakangi dan ditempuh sebagai strategi gerakan PPLP-KP.

Tulisan pertama, “Sisi Gelap”, merefleksikan proses pembodohan yang sedang menghegemoni rakyat, berupa pembenaran-pembenaran tambang pasir besi oleh kalangan tertentu yang “tidak tahu menahu tentang sebuah peristiwa langsung” dan “mengatakan yang menurut pemerintah itu baik” (hlm. 2). Dari kesadaran ini, Widodo menekankan pentingnya masyarakat sendiri untuk berpikir dan bertindak serta waspada terhadap kalangan tertentu. Keburukan akademisi yang melegitimasi proyek pertambangan, aparat hukum yang mengkriminalisasikan Tukijo[i], budayawan, dan wacana demokrasi yang selama ini berwajah baik, disingkap dalam “Antara Baik dan Buruk” (hlm. 9–16). Sinisme, bahkan hujatan, terhadap akademisi, LSM, politisi, ormas, semakin eksplisit di “Abu-abu” (hlm. 61–67).

Namun, bukan berarti PPLP-KP menolak solidaritas dari pihak luar. “Bahkan semakin banyak orang yang bersolidaritas itu sangat kami harapkan” (hlm. 62). Sinisme itu tak lebih dari penegasan sikap selektif dan hati-hati terhadap pihak luar yang kerap hanya memanfaatkan untuk kepentingan sempit. Selain surat-surat solidaritas dari berbagai negara di Lampiran, beberapa nama seperti BSW Adjie Koesoemo, seorang keluarga Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang membela perjuangan PPLP-KP dengan perspektif sejarah agraria Yogyakarta (kawasan tambang pasir besi di pesisir Kulon Progo menggunakan klaim tanah kerajaan yang berpuluh-puluh tahun telah dimanfaatkan petani untuk budidaya); dosen Fakultas Pertanian UGM Dr. Djafar Sidiq yang giat mendukung penolakan tambang pasir besi dengan argumen-argumen akademis; pers mahasiswa Universitas Sanata Dharma Natas dan Balairung UGM yang memberitakan penolakan tambang dari perspektif petani; serta Solidaritas Tolak Tambang Besi (STTB), yang dinilai sebagai kawan disebut dalam “Penerus Kehidupan” (hlm. 53–67).

Selektivitas solidaritas ini saya rasa juga bagian dari kemandirian. Mereka menentukan sendiri siapa kawan, siapa lawan dan siapa abu-abu. “Ada di Mana-mana” (hlm. 75–84) mengisahkan lebih lanjut tentang solidaritas dalam bangunan gerakan PPLP-KP. Pertemuan PPLP-KP dengan sesama akar rumput seperjuangan seperti Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan (FKKPS) yang lantas mengawali terbentuknya Forum Komunikasi Masyarakat Agraris (FKMA) menyiratkan kesadaran pentingnya solidaritas sesama akar rumput. “Kami sadar sepenuhnya betapa pentingnya kami sesama petani untuk saling mengerti, merasakan dan memiliki tentang semua hal, apalagi soal permasalahan dan kasus yang selalu membelit dan menimpa para petani” (hlm. 76).

Senjatanya Orang-orang yang Menolak Kalah

Posisi kedua di mana saya harus menempatkan MAM adalah pada konteks diskurus dalam relasi struktur oposisi biner antara rakyat dengan kolaborasi negara dan modal. Dalam wawancaranya dengan Left Book Review edisi x/2013, sejarawan Wilson yang terinspirasi dari karya magnum opus Sartono Kartodjirjo Pemberontakan Petani Banten 1888menekankan pentingnya penulisan sejarah dengan subjek utama pelaku, bukan penguasa. Ia juga menyerukan bahwa organisasi rakyat harus menuliskan sendiri sejarahnya.[ii] MAM kiranya menjadi satu jawaban dari seruan itu. Selain melawan narasi yang dikampanyekan kelas penguasa, sejarah gerakan rakyat yang ditulis oleh pelaku tentunya mampu menggambarkan secara lebih jeli berbagai intervensi yang bisa melemahkan gerakan. Karena wacana tidak pernah netral kuasa. Cerita tentang penekanan kemandirian dan selektivitas solidaritas saya rasakan sebagai wujud kejelian itu di MAM.

Namun, MAM tidak mengeksplorasi perlawanan petani pesisir Kulon Progo secara sistematis sebagaimana tradisi akademis.[iii] Sebagai produk literer, MAM lebih bermuatanpolitical pamflet ketimbang data yang basah. Dalam konteks ini, MAM akan tepat dimaknai sebagai bagian dari dinamika perlawanan itu sendiri.

James C. Scott pernah begitu berpengaruhnya menulis perlawanan sehari-hari petani lewat karya monumentalnya Senjatanya Orang-orang Kalah (YOI, 2000-terjemahan). Gagasan Scott yang menawarkan cara pandang baru di tengah dominannya kajian perlawanan petani pada pemberontakan yang luas, teroganisir dan revolusioner (hlm. 39) itu sekilas memang tidak mewadahi perlawanan PPLP-KP. Perlawanan petani di Sedaka, Malaysia, yang ditulis Scott tidak dilingkupi konteks oposisi diametral kelas yang terang-benderang mewujud seperti di petani pesisir Kulon Progo dan cerita akar rumput lain di MAM yang tegas melawan kolaborasi negara dan modal. Alih-alih mewadahi, Scott mengungkapkan bahwa pemberontakan petani yang terbuka akan mudah dikalahkan. Namun optimisme Scott akan menguatnya perlawanan sehari-hari petani dalam wujud polip anthozoa yang suatu saat bisa saja menenggelamkan kapal kelas penindas menemui relevansi dalam narasi perlawanan MAM. Jika Scott memaknai perlawanan sehari-hari itu sebagai senjatanya orang-orang kalah, maka MAM adalah senjatanya orang-orang yang menolak kalah.

Rencana pertambangan pasir besi yang menyembul 2007 silam memang mengagetkan petani pesisir Kulon Progo yang tengah bangkit dari kekalahan dari pembangunan. “Menanam Adalah Melawan!” (hlm. 33–51) mengisahkan transformasi warga pesisir yang dulu dijuliki wong cubung menuju kehidupan yang lebih baik dengan penemuan potensi lahan pasir untuk ditanami cabai oleh Sukarman muda pada tahun 1985. Wong cubung“yang identik dengan kotor, jorok, miskin, tidak berpendidikan, penyakitan dan bayak lagi yang intinya adalah semua hal yang jelek-jelek” sehingga “mau macarin cewek dari luar daerah, kami menjadi minder”, berlahan-lahan bisa memperbaiki taraf hidup.

Mereka terus berinovasi seperti tumpang sari cabai dengan sayuran, menanam semangka dan melon di musim kemarau, dan sistem pengairan sumur dari timba manual ke pipanisasi. Tiga bulan setelah tanam perdana 1 Maret lalu, petani pesisir Kulon Progo memanen cabai. Harganya mencapai rata-rata Rp20.000/kilogram. Dalam Lampiran 5 “Laporan GAPOKTAN PPLP-Kulon Progo” disebutkan, dengan harga Rp10.000 saja, keuntungan dari cabai dengan lahan 1.000 meter persegi bisa mencapai Rp7.755.000; melon Rp4.030.000. Sebuah kemenangan-kemenangan kecil petani, yang oleh Widodo dirasakan sebagai kelas yang paling menjadi korban dan menjadi percobaan berbagai macam kepentingan negara dan orang-orang yang merasa besar (Pengantar).

Rabu siang, 26 Juni, Widodo menulis pesan perlawanan di dinding facebook-nya (Unduk Gurun) bahwa hari ini JMI dan pemerintah sedang membicarakan akuisisi lahan untuk lapak pabrik baja meskipun petani terus menolak. “Fungsikan diri masing2 utk sebuah perlawnan yang nyata,” tulisnya.

Pertambangan pasir besi dengan kongsi perusahaan milik keluarga Kraton Ngayogyakarta Jogja Magasa Mining dan Indo Mines Ltd. asal Austalia dalam Jogja Magasa Iron (JMI) yang sudah menancapkan tapak pilot project di pesisir Kulon Progo terus dipaksakan. PPLP-KP, Widodo, Menanam Adalah Melawan!, dan perlawanan tolak tambang besi adalah kesatuan perlawanan yang terus berhembus menembus batas.

Sabtu, 15 Juni, bersama ratusan warga PPLP-KP Widodo hadir di acara Rally Gerakan Politik Agraria Yogyakarta di Parangkusumo, Bantul, sebagai bentuk solidaritas penolakan penggusuran Aliansi Rakyat Menolak Penggusuran (ARMP). Pada peringatan hari jadi ke-6 PPLP-KP 1 April 2012 lalu, Koordinator ARMP Pak Watin turut berorasi di Kulon Progo. Selain terkonsolidasikan dalam isu rencana penggusuran ruang hidup, PPLP-KP dan ARMP ditemukan dalam konteks spesifik agraria dalam pola keistimewaan Yogyakarta. Bersama warga Suryowijayan yang telah digusur atas klaim tanah kerajaan, PPLP-KP dan ARMP kini menghadapi keistimewaan Yogyakarta yang melegitimasi kembalinya kekuasaan Kraton Ngayogyakarta atas tanah kerajaan yang telah dikembalikan kepada negara dan rakyat pada tahun 1980-an. Lima keluarga warga Suryowijayan telah digusur atas klaim Sultanaat Ground (SG—tanah kasultanan) oleh pengusaha, warga Parangkusumo bakal digusur karena dituduh menempati secara liar SG untuk proyek pariwisata, dan petani Kulon Progo bakal digusur atas klaim Pakualamaat Ground (PAG) untuk tambang.

Berikut penggalan paragraf yang menutup “Antara Baik dan Buruk”:

"Heh, terus apa artinya “Tahta untuk Rakyat?” Bohong besar, penipu ulung, semua hanya slogan! Apa bukti kesetiaan ataupun keutuhan negeri ini bila daerah istimewa ini harus berdiri sendiri. Peraturan tentang pengaturan tanah, apa gunanya Badan Pertanahan Nasional bila badan tersebut harus tunduk pada peraturan raja. “Ada negera di dalam negara” itulah kiranya predikat yang tepat” (hlm. 16).


[i] Tukijo adalah petani dan aktivis PPLP-KP asal Dusun Gapit, Karangsewu, Galur, Kulon Progo yang mengalami dua kali kriminalisasi. Kriminalisasi pertama terjadi pada Mei 2009 dengan tuduhan pencemaran nama baik karena bertanya hasil pendataan tanah ke kepala dusun. Lihat Kritik Menuai Pidana, Konsekuensi Hak Asasi Manusia dari Pasal Pencemaran Nama Baik di Indonesia (Human Right Watch, 2010) Kriminalisasi kedua terjadi pada 2011. Lihat MAM bab “Petani Sejati” hlm. 27–32.

[ii] Lihat “Wilson : Organisasi Rakyat Harus Menuliskan Sendiri Sejarahnya!” dihttp://indoprogress.com/lbr/?p=1265.

[iii] Untuk kajian akademis lihat Kus Sri Antoro, “Konflik-konflik Sumberdaya Alam di Kawasan Pertambangan Pasir Besi: Studi Implikasi Otonomi Daerah (Studi Kasus Di Kabupaten Kulon Progo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)” (Tesis Sekolah Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor, 2010); Dian Yanuardy, “Commoning, Dispossession Projects and Resistance: A Land Dispossession Project for Sand Iron Mining in Yogyakarta, Indonesia” (Paper dipresentasikan pada International Conference on Global Land Grabbing II, Land Deal Initiative dan Department of Development Sociology Cornell University, Ithaca, New Yok, 17–19 Oktober 2012). Untuk laporan jurnalistik lihatBalairung, “Tarik Ulur Eksekusi Tambang Kulon Progo”, edisi 46/XXVII/September 2012;Natas, “Sesaji Raja untuk Dewa Kapital”, edisi 2011.

1 komentar:

Anonim at: 22 September 2013 20.13 mengatakan...

Dimana bisa didapatkan buku ini?

newer post older post