Telusuri

Memuat...

Kapitalisme Indonesia di Persimpangan Zaman



2 komentar
"Piye kabare? Isih penak jamanku to?" Kalimat yang identik dengan senyum mengembang mantan presiden Soeharto ini mudah ditemui di berbagai media gambar seperti sticker, poster, mural, kaos, serta berseliweran barsama bak truk dan kaca mobil. Serasa mengusung kekecewaan warga karena terus naiknya harga berbagai komoditi sekarang ini, kalimat itu biasanya diteruskan dengan kalimat "apa-apa murah." Gambar tersebut sayup-sayup memanggil kembali "kejayaan" perekonomian era Orde Baru, sekaligus menyapa kita dengan ramah bahwa Orde Baru lebih baik dari zaman selanjutnya. Romantisme ahistoris ini tidak menyembul tanpa sebab. Bagi mereka yang tahu dan merasakan langsung bahwa kejayaan Orde Baru dalam skema kapitalisme pembangunannya tidak dibangun tanpa tumbal warganya sendiri, romantisme ahistoris itu tentu sangat menyakitkan hati. Ya, kapitalisme Orde Baru memang dibarengi pembantaian massal  mereka yang bersikap kritis dan resisten, terutama kelas proletar. Salah satu sebab kembalinya senyum mengembang Soeharto itu adalah kaburnya analisis kelas dalam kritisisme atas kapitalisme di Indonesia yang juga dihegemoni oleh kuatnya rezim kapitalis hingga konteks kekinian. Salah satu analisis kritis atas kapitalisme Orde Baru yang menjadi rujukan utama dalam dunia akademik ekonomi politik adalah karya klasik RIchard Robison Indonesia: The RIse of Capital (1986). Kita memang bisa melacak rekam jejak konfigurasi kelas kapitalis (ekonomi) dengan agensi negara (politik) Orde Baru lewat buku itu. Namun, analisis Robison hanya fokus pada lokus ekonomi politik elit sehingga meninggalkan berdarahnya kapitalisme Orde Baru di pedesaan dan pojok hutan. Karya yang sempat dilarang beredar di Indonesia oleh Orde Baru itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia setelah hampir tiga dasawarsa pasca terbitnya: Soeharto dan Bankitnya Kapitalisme Indonesia (Komunitas Bambu, 2012). Berikut resensi buku terjemahan tersebut yang saya tulis di Primsa Vol. 32 No. 1 2013 ("Perselingkuhan Bisnis & Politik: Kapitalisme Indonesia Paca Otoritaritarianisme"):
Perekonomian global kini tengah berjalan gontai. Setelah menerjang pusat perekonomian dunia (Amerika Serikat) pada 2007, krisis kapitalisme kini menjalar ke seluruh penjuru Eropa. Karl Marx memang bukan sedang meramal saat menegaskan bahwa kapitalisme mengandung kontradiksi di dalam dirinya. Namun, ketika dunia perekonomian global tengah dirundung “derita”, pemerintah Indonesia justru menyiarkan kabar gembira. Dengan mengutip laporan ekonomi makro, para birokrat di negeri ini dengan bangga menyiarkan melalui pelbagai media bahwa meski perekonomian dunia mengalami krisis, pertumbuhan ekonomi Indonesia semester pertama tahun 2012 lebih baik dibandingkan dengan semester pertama tahun 2011 yang tumbuh sebesar 6,3 persen. (naskah lengkap unduh pdf)

2 komentar:

Anonim at: 11 Mei 2013 21.31 mengatakan...

Jadi, jika harus memilih, mana yang lebih baik? Saya pikir semua orang akan setuju bahwa era Orde Baru lebih baik. Nyatanya, sekarang era itu dirindukan banyak orang. Kuncinya satu, kalau harga beras (kebutuhan pokok)murah, itulah era yang didambakan. Masyarakat Indonesia tak pernah benar-benar memikirkan hal itu (era). Mereka sudah terlalu lelah memikirkan kebutuhan sehri-hari. Hehehe

Udin Choirudin at: 12 Mei 2013 05.09 mengatakan...

Anda militer ya?

newer post older post