Telusuri

Memuat...

Om Nu, Rumus Cepat dan Ngapel Malam Minggu



0 komentar
Sepi. Aku membayangkan waktu itu Om Nu merasakan sepi yang sangat dalam. Maklum, kalau di usianya yang lebih dari 50 tahun, ia masih memintaku mengantarkannya ngapel nyaris tiap malam Minggu.

Nugroho nama lengkapnya. Andai ia masih hidup, aku bakal memintanya untuk bercerita pengalamannya sebagai kepala sekolah madrasah di Kalimantan. Pasti menarik. Bagaimana bisa seorang sebatang kara bisa mengepalai sekolah. Sekitar sewindu lalu ia juga jarang menyinggungnya. Itu pun di sela-sela saat ia mengajariku rumus cepat menyelesaikan soal matematika, fisika, dan kimia.

Tidak cuma menarik, pasti cerita itu jauh lebih berharga daripada cerita bagaimana Om Nu mengajariku mengerjakan tugas rumah eksakta. Bayangkan saja betapa membosankannya berkutat dengan rumus-rumus satuan sudut, gaya dan tekanan, diferensial-integral, trigonometri, gerak dan gelombang, vektor, molekul dan tabel periodik. Apa boleh buat, dulu aku memang asyik dengan hitung-hitungan yang penuh teka-teki itu.

Cerita ini mungkin juga sangat membosankan. Tetapi ada jejak berharga, sangat berharga, sehingga aku bisa menyusunnya. Semoga cerita ini bisa menebus absenku dalam menulis epitaf, tiga tahun lalu saat gema tahlil mengantarkannya ke alam baka.
* * *
Sore itu aku belum lahir. Aku hanya bisa membayangkan, sore itu keluarga Om Nu tengah sibuk menyiapkan hidangan dan berkat untuk jamaah tahlil. Malamnya tahlilan dan yasinan yang dipimpin Pak Kiyai pasti sangat khusyuk. Ibunya mungkin menangis di didekapan adik-adiknya. Malam itu, keluarganya mengirimkannya doa sekaligus menandai kematiannya. Betapa absurb, mengingat malam itu adalah tiga puluh tahun sebelum kematiannya.

Mungkin itu satu-satunya niat baik keluarga yang bisa direalisasikan untuk menghormati sekaligus mengenangnya. Setelah peristiwa gonjang-ganjing penumpasan PKI, keluarganya kocar-kacir. Ayahnya tewas ditembus timah panas tentara. Ia dan saudara-saudaranya yang masih remaja harus mencari selamat sedapatnya. Mereka terpencar.

Cerita ditutup.

Perlahan-lahan keluarganya membuka kembali cerita di bawah eksklusi negara. Hanya Om Nu yang tidak terlacak. Sampai sore itu keluarga memutuskan untuk menggelar tahlil untuknya.
* * *
Aku tidak ingat betul suasana sore itu. Tiga puluh tahun setelah malam tahlilan untuk almarhum Om Nu. Ia pulang. Air mata bahagia mengalir dari ibu dan saudara-saudaranya. Rumahnya ramai dikunjungi sanak dan teman-teman karib lamanya di desa.

Ia lalu tinggal di rumah adiknya di Surabaya yang menjadi pengusaha. Di sana ia menjadi guru privat para keponakannya. Mungkin bosan dengan kehidupan perumahan, mungkin saja rindu dengan kehidupan pedesaan. Ia pulang lagi. Inilah awal cerita perjumpaanku dengannya.

Saat itu aku siswa madrasah setingkat SMP. Nyaris tiap malam aku dibimbing memahami dan melahap semua tugas pelajaran eksakta. Kalau aku tidak berkunjung ke rumahnya, ia yang datang ke rumahku. Saking rajinnya, aku kadang malah pura-pura tidur untuk menghindarinya. Aku masih ingat betul bagaimana Om Nu kesal gara-gara mendengar cerita guruku fisika tidak masuk selama sebulan.

Meskipun dengan tubuh yang separuh hidup—separuhnya lagi mati karena stroke—Om Nu coba garap sawah keluarga yang sebelumnya disewakan. Pagi-siang di sawah, malam hari menjadi relawan guru privat anak-anak tetangganya.

Beberapa tahun kemudian Om Nu menjadi anggota masyarakat yang ditokohkan. Ia organisasikan pemuda desa yang tiap malam nongkrong di warung kopi sambil nyanyi-nyanyi dan gitaran untuk bentuk orkes melayu. Sepekan sekali rumahnya menjadi studio latihan. Sementara orkes melayu kampung mulai laris orderan manggung, aku selalu menempati peringkat lima besar di kelas SMA.

Ada yang kurang di kehidupannya, pasangan hidup. Sejak pulang dari Kalimantan, statusnya masih bujang. Aku tidak tahu bagaimana kronologinya ia bertemu teman lamanya di kecamatan sebelah yang telah lama menjanda. Yang jelas, aku mulai rutin diminta mengantarnya ngapel ke rumah Budhe Tik nyaris tiap malam Minggu.

Budhe Tik, seorang janda dari tentara yang dimakamkan di taman makam pahlawan kabupaten, memang cantik. Ia tinggal di desa yang jaraknya setengah jam perjalanan dari desa kami. Ia tinggal sendiri. Anak tunggalnya yang seorang perwira telah almarhum lantaran gugur bersama helikopternya yang jatuh di Bogor. Aku hanya bisa melihat foto almarhum putri dan suaminya yang dipajang di dinding rumahnya. Sang ayah tampak gagah dengan seragam angkatan darat, sang putri tampak cantik dengan seragam angkatan udara.

Setiap apel malam Minggu itu, aku serasa menjadi putra mereka, ikut duduk mengelilingi meja makan dan menyantap masakan-masakan khas desa. Tempe goreng, sayur lodeh, pepes, sambal korek. Tak pernah ada pembicaraan mendalam soal masa lalu. Hanya sesekali menyinggung almarhum putri tunggal Budhe Tik yang dulu kuliah di Gadjah Mada sebelum masuk satuan perwira dan melanjutkan sekolah di Australia.
Keduanya lalu menikah. Sementara aku kuliah di Gadjah Mada. Tiba-tiba kabar itu datang. Om Nu meninggal. Saat itu aku sedang di perjalanan ke Makassar untuk mengikuti pelatihan jurnalisme.
* * *
Betapa aku menyesal tidak sempat mengucapkan terima kasih atas jasa-jasanya terhadap sebuah fase kehidupanku. Sebuah fase yang tentu saja menentukan kelanjutan hidup berikutnya.

Om Nu memang tidak pernah mendukungku melanjutkan sekolah di bidang ilmu sosial. Ia selalu menekankan untuk mendalami eksakta. Ketika aku kabari kalau aku diterima fakultas ilmu sosial dan ilmu politik Gadjah Mada setelah tahun sebelumnya gagal masuk jurusan kimia di dua universitas negeri di Surabaya, ia hanya komentar, “Hahaha yang penting Gadjah Mada!” Ia tepuk pundakku. “Ora sia-sia Om ngajari awakmu, Din. Mampirlah ke Masjid Agung Yogyakarta. Sebelum merantau ke Kalimantan, aku pernah ngawula di sana.” Dan di depan aku, Budhe Tik menitikkan air mata.

Aku memang sudah lupa semua rumus cepat untuk menjawab soal matematika, fisika dan kimia yang diajarkannya. Tetapi aku tidak akan lupa soal kegigihannya dalam memperjuangkan hidup, cita-cita dan cinta.. 

0 komentar:

newer post older post