Telusuri

Memuat...

Kampanye Kosong



0 komentar
Baliho berukuran sekitar 2x3 meter itu terpampang mentereng, menampilkan sosok keren. Lengkap dengan motto. Beberapa baliho raksasa itu dibeber di Bunderan Filsafat, bergelantungan di jembatan layang Peternakan, bahkan nampang di perempatan Sagan. Masih banyak lainnya. Ketika memandangnya, mungkin kita akan teringat iklan politik ”hidup adalah perbuatan”.


Ya, pesta demokrasi kian dekat di pelupuk mata. Baliho-baliho raksasa itu adalah media kampanye para calon Presma. Layaknya kampanye Pemilu, mereka mengiklankan dirinya melalui baliho, spanduk, poster, hingga pamflet.

Menyongsong Pemilu ke depan, para elit politik berlomba menjajakan citranya di pelbagai media. Iklan politik itu sering kita anggap sebagai media kampanye kosong dan cenderung membohongi. Saya pun mengamini. Bukan karena strategi kampanye seperti itu tidak efektif, iklan politik terbukti ces pleng mendongkrak citra dan merenggut hati massa. 

Namun, lebih karena iklan politik itu tidak memakan biaya murah. Pengiklan juga hanya menjual citranya dan tidak mengena pada substansi misi dan visinya.

Eitz, nampaknya kini terjadi ironi. Kampanye para calon Presma ternyata mengekor juga pada praktik kampanye Pemilu. Bagaimana tidak, menyongsong Pemira ini, kampus kita tak sepi dari gemerlap iklan politik para calon Presma. Dengan pelbagai gaya retorika dan visualisasi nyentrik, para calon presma nampak sangar. Logika politik yang diusung mahasiswa seolah tak jauh beda dari praktik para elit politik bangsa.

Padahal, bukannya logika politik di kalangan kaum akademisi seharusnya tidak berada di alur sejajar dengan logika politik praktis? Ya, karena logika politik praktis itu kan hanya mengedepankan pembangunan citra diri, menggurui, dan membohongi.

Momen Pemira yang seharusnya mampu memberikan cermin demokrasi penuh nafas intelektualitas, malah ikut-ikutan mengusung logika politik pencitraan yang sebenarnya kosong melompong. Ah, bagaimana bisa merekomendasikan logika dan praktik politik yang sehat kalau mahasiswa sendiri terhegemoni praktik politik elit bangsa yang kerap kita cap tidak sehat. [Interupsi Balkon]

0 komentar:

newer post older post