Telusuri

Memuat...

Babat Alas Siberut



0 komentar
Judul       : Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan, dan Politik Ekologi
Penulis    : Darmanto dan Abidah B. Setyowati
Penerbit  : KPG, 2012
Tebal      : xxxvi + 476 halaman
ISBN     : 978-979-91-0503-5

Demokratisasi distribusi keuntungan (benefits flow) dari sumber daya alam (SDA) dalam realitas ekonomi politik Indonesia kontemporer ditandai dengan penerapan kebijakan desentralisasi. Momen ini dibarengi kian melubernya globalisasi (pasar) hingga ke pojok desa hutan. Pada konteks ini, lantas, bagaimana realitas distribusi keuntungan dari SDA mewujud dalam keseharian?

Buku duet Darmanto dan Abidah B. Setyowati Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan dan Politik Ekologi (KPG, 2012) menggambarkan sketsa realitas itu, dengan SDA berupa hutan yang menjadi basis material sekaligus kultural kehidupan masyarakat Siberut. Memijakkan analisisnya pada teori akses dari Jesse C. Ribot dan Nancy Lee Pelluso (lihat subbab Analisis Buku Ini, hlm. 19–23), catatan etnografi ini secara detail menarasikan dinamika (re)konfigurasi ragam aktor yang berkontestasi dalam arus distribusi hasil hutan Siberut. Sebuah laku babat alas.

Konsep akses dimaknai sebagai proses siapa mendapatkan keuntungan dari SDA, dengan cara bagaimana dan kapan. Tidak cukup ditentukan oleh hak atas properti (property rights), dalam perspektif ini, kemampuan aktor untuk mendapatkan keuntungan dari SDA ditentukan oleh ragam faktor seperti akses terhadap teknologi, modal, padar, pengetahuan, otoritas (politik maupun kulutural), serta relasi sosial, yang hidup dalam bundel-bundel dan jaringan kekuasaan.

Buku ini menempatkan masyarakat adat Siberut sebagai subjek utama kajian. Kehidupan berburu dan berladang di hutan yang terikat dengan relasi kultural adat masyarakat Siberut ketika berhadapan dengan berbagai intervensi dari luar—negara dengan kepengaturan dan program pembangunan, penambang kayu, LSM dengan wacana dan program konservasi—menghasilkan pola relasi yang rumit, serumit hutan Siberut yang penuh onak dan duri. Dengan teori akses, analisis bisa menghindarkan jebakan simplifikasi relasi pada oposisi biner: negara plus rezim kapitalis hutan versus masyarakat dengan kearifan lokalnya. Hatta, meski disampaikan dengan nada liris, tidak ada kisah heroik dan tragis dalam studi ini.

Pada kenyataannya, meskipun pengaturan negara, rezim kayu, dan program konservasi senantiasa mengganggu aktivitas berburu dan berladang, masyarakat Siberut tidak serta-merta melawannya secara kolektif, terorganisir, dan tunggal. Di tengah dominasi aktor-aktor luar itu, masyarakat Siberut melancarkan proses negosiasi yang mewujud dalam sikap melawan sekaligus akomodasi. Dalam negosiasi itu, masyarakat Siberut mengalami diaspora, sikap-sikap ambivalen, inkonsisten, bahkan bertentangan. Dulu teriak tolak pertambangan kayu, kini membelanya. Sekarang menolak konservasi, padahal dulu mendukung. Dulu aktif di LSM pembela hak masyarakat adat menolak penambangan kayu, sekarang jadi karyawan tambang.

Mereka menerima program konservasi dan menjual lahan hutannya kepada penambang kayu sekaligus tetap menerabas dan membuka ladang di sana. Mereka tidak sepenuhnya melawan negara karena mereka menggantungkan janji-janji pembangungan dengan segala fasilitasnya. Dari perusahaan kayu, mereka bisa mengantongi uang tunai dengan penjualan hutan. Dari LSM, identitas adat mereka terlegitimasi untuk tetap mengklaim kepemilikan hutan.

Aksi, strategi, dan taktik untuk meraih akses dan kontrol atas hutan terkesan acak, tidak patuh, oportunis, dan egois. Semua itu dinilai semata-mata demi mencapai kehidupan yang lebih baik (modern): makan nasi, punya kendaraan bermotor, televisi dan bersekolah tinggi.

Dalam studi tentang kontes sehari-hari masyarakat hutan di Wonomukti, Jawa, Hery Santoso (2004) mempertanyakan apakah aksi-aksi sporadis itu bisa disebut perlawanan? Kuatnya pengaruh James C. Scott dalam studi Hery mengantarkan jawaban tegas: bukan tidak mungkin aksi-aksi kecil sehari-hari itu bisa berkembang menjadi perlawanan berbasis kelas (Perlawanan di Simpang Jalan, hlm. 36).

Meskipun studi Berebut Hutan Siberut sepola dengan studi Hery, buku ini berhasil menggambarkan rumitnya relasi produksi dan kultural masyarakat Siberut yang berjalin-kelindan dengan bundel-bundel kekuasaan dalam aksesibiltas atas hutan, sehingga tidak ada isu kelas yang terabstraksikan secara elaboratif.

Sikap pragmatis masyarakat adat Siberut yang selalu bisa bernegosiasi dengan ragam bundel kekuasaan di atasnya dinilai sebagai sikap rasional. Apakah ini bisa disebut perlawanan? Hadirnya analogi polip anthozoa ala senjata orang-orang kalah-nya Scott di paragraf terakhir bab terakhir buku ini mungkin sebuah jawaban. Sayang, ia mendadak menutup kisah ini tanpa elaborasi yang memuaskan. Kalau akhir yang bahagia adalah kisah yang membosankan, akhir kisah ini juga bukan sebuah tragika. Ia menggantung. Dan saya membayangkan ada kata “bersambung”. 

0 komentar:

newer post older post