Telusuri

Memuat...

Mei yang Sederhana



0 komentar
Kau telah mengajarkanku berani
Kau telah mengajakku berteriak tapi di hati

Kita tidak bicara tentang nurani
Karena nurani petani dan tuan tanah jauh sekali
Kita tidak bicara tentang moral
Karena moral buruh dan juragan bedanya bukan kepalang
Kita bicara tentang hak
Hak untuk digaji sama besarnya
Karena kita bekerja sama beratnya

Kau telah mengajarkanku berani
Kau telah mengajakku berteriak tapi di hati

Apa yang kita minta sederhana
Gaji yang layak dan gaji yang setara
Agar kita bisa sedikit lebih sejahtera
Agar gaji tak habis untuk bayar hutang di pasar, warung, dan tetangga
Agar anak tenang belajar di sekolah, agar untuk ditabung ada sisanya

Apa yang kita butuhkankan sederhana
Gaji yang layak dan gaji yang setara

Tapi kebutuhan kita memang berbeda dengan kebutuhan mereka
Kebutuhan kita gaji yang lebih banyak, kebutuhan mereka untung yang lebih banyak
Kebutuhan kita agar beban hidup sedikit berkurang, kebutuhan mereka agar investasi tak terbuang
Memang sederhana, perbedaan kebutuhan kita dan mereka seperti gunung dan jurang
Karena itu kita bicara tentang hak untuk menuntut hak

Kau telah mengajarkanku berani
Kau telah mengajakku berteriak tapi di hati
Berkumpul dan rundingkan masalah kita yang nasibnya sama
Berserikat dan suarakan tuntutan kebutuhan kita
Berpegang pada kekuatan sendiri, ya, kekuatan sendiri
Karena berharap pada pemerintah tak ada gunanya
Karena berharap pada wakil rakyat tak ada manfaatnya
Karena pemerintah hanya bisa main perintah
Karena wakil rakyat bukan wakil dan bukan rakyat

Sekarang bersuara kalau tak lantang tak akan didengar
Sekarang berjuang tanpa kekuatan tak akan diperhatikan
Karena itu kita bersatu, karena itu kita bergerak
Karena itu kita demonstrasi, karena itu kita lancarkan pemogokan
Agar mereka tahu, siapa yang selama ini memeras tenaga
Agar mereka tahu, siapa yang sebenarnya jalankan alat kerja
Agar mereka tahu, tanpa kita mereka bukan siapa-siapa

Kau telah mengajarkanku berani
Kau telah mengajakku berteriak tapi di hati

Sayang mereka tidak memilih untuk mengerti
Sayang mereka tidak belajar untuk mendengar
Karena yang mereka mengerti adalah angka-angka penghasilan
Karena yang mereka dengarkan hanya pujian kesuksesan pertambangan

Sekarang mereka bicara tentang kerugian pabrik dan kerugian negara
Karena mereka tak mau tahu kerugian kita yang bekerja
Sekarang mereka ribut tentang barang yang dibakar
Apalah arti barang yang dibakar kalau kekayaannya bisa beli selusin pengganti
Sedangkan nyawa kawan kita yang ditembak tak akan pernah kembali

Sekarang koran dan tv ramai tentang aksi rusuh
Tapi kemana mereka saat kita ditembaki?
Ikut menyorot, iya. Ikut mempertontonkan, iya
Ikut menolong? Rasanya tidak.
Berita memang selalu heboh kalau aksi rusuh
Berita memang banyak kalau ada yang luka, apalagi mati
Tapi mengapa itu terjadi, dan apa yang kita ingini tak begitu digali

Ya, sederhana
Sekarang media siapa yang punya?
Wartawan atau juragan?
Sekarang presiden ikut protes
Protes tapi kita yang disalahkan
Seakan kita ini pemberontak
Seakan kita ini teroris
Seakan kita ini yang salah
Salah karena kita menuntut hak?
Salah karena kita bosan diinjak?

Ya, sederhana
Sekarang presiden abdinya siapa?
Abdinya rakyat atau abdinya pengusaha?

Bagaimana bisa? Pistol dan senapan yang dibeli dari pajak pemotong gaji kita diarahkan ke kita sendiri?
Bagaimana bisa? Peluru yang dibayar dari pajak pemotong gaji kita ditembakkan ke kita sendiri?
Bagaimana bisa? Aparat yang digaji dari pajak pemotong gaji kita menyerang kita sendiri?
Ya, sederhana
Aparat siapa yang punya?

Begini ini hidup di Indonesia
Merdeka memang cuma di buku sejarah saja
Merdeka memang untuk mereka yang punya uang dan punya kuasa
Merdeka untuk menindas dan menghisap yang tak punya apa-apa

Memang begini kenyataannya
Terjadi dimana-mana
Terjadi pada siapa saja
Terjadi pada kaki lima yang digusur disana-sini
Terjadi pada pedagang pasar yang pasarnya dibakar
Terjadi pada pelajar yang berani protes dan diberhentikan karena dianggap kurang ajar
Terjadi pada mahasiswa yang berani menentang dan dikeluarkan karena dianggap bikin onar
Terjadi pada petani yang ditembaki karena perjuangkan tanah garapan sendiri
Terjadi pada buruh yang ditembaki karena perjuangkan gaji atas kerja sendiri

Seperti kita
Ya, seperti kita
Orang seperti kita ada dimana-mana
Orang seperti mereka juga ada dimana-mana
Ya, di Jawa. Ya, di Papua.
Ya, di Indonesia. Ya, di Malaysia.
Ya, di Tunisia. Ya, di Libia.
Ya, di Italia. Ya, di Amerika.
Dimana-mana.

Berbangsa-bangsa, tapi yang ditindas sebenarnya berkawan dan bersaudara
Karena sama-sama menderita, sama-sama dirampas hak-haknya
Dimana-mana orang seperti kita sudah bosan ketakutan
Dimana-mana orang seperti kita sudah bosan diinjak-injak
Dan dimana-mana sudah tak ada jalan lain lagi selain sama-sama berjuang

Kau telah mengajarkanku berani
Kau telah mengajakku berteriak tapi di hati

Tak apa kalau sementara kita kalah
Karena perjuangan masih panjang
Umurnya bukan umur jagung atau umur orang
Dan di depan sana sudah menanti masa yang cerah
Ayo, jangan pernah berhenti melangkah
Sekarang kita belajar untuk tak menyerah
Belajar melatih mental, belajar melatih keberanian
Belajar bersatu, belajar bergerak, belajar berjuang

Hari ini sekali lagi kita menarik garis tebal pembeda antara mereka dan kita
Esok hari dalam perjuangan kita tak akan lupa siapa kawan dan lawan
Esok hari dalam kemenangan kita tahu siapa yang harus diberi kebaikan
dan siapa yang harus diganjar

Kau telah mengajarkanku berani
Kau telah mengajakku berteriak tapi di hati
Malam ini, di bulan Mei yang sederhana ini

D.N. Abdullah-ChU
Bojonegoro-Jogja, Mei 2012

0 komentar:

newer post older post