Telusuri

Memuat...

Masyarakat Agraris, Ponsel dan Kultur Keberaksaraan



0 komentar
Mbak Tin, besok Jum’at bisa tandur di Pekuwon tidak? Kula butuh 12 orang,” kata Ibu saya di ponselnya. Ibu saya menghungi Ibu Tini (41) untuk meminta tenaga buruh tanam padi (tandur) di sawah. Ibu saya tinggal di desa Pekuwon, Kecamatan Sumberrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Sementara Ibu Tini tinggal di desa Bulu, Kecamatan Balenrejo. Kedua desa ini terpaut jarak 7 kilometer. Dulu sebelum akrab dengan ponsel, Ibu saya dan tetangga yang sama-sama petani harus mengunjungi rumah tenaga buruh tani ketika membutuhkan. Seiring perkembangan teknologi seluler yang sudah menjangkau semua kalangan di seluruh pelosok tanah air, kini Ibu saya cukup menghubungi Ibu Tini melalui ponsel, baik dengan layanan SMS atau panggilan.

Ilustrasi di atas menggambarkan bahwa teknologi seluler—dimana peran operator yang sudah memberikan layanan di setiap daerah sangat signifikan—sangat membantu masyarakat agraris dalam melangsungkan pertaniannya sebagai moda mata pencaharian ekonomi maupun sosial. Murahnya tarif yang diberikan operator seluler nyatanya tak hanya memberikan manfaat masyarakat agraris untuk melangsungkan aktivitas ekonominya—dalam hal ini pertanian—tapi juga telah menggiring mereka akrab dengan budaya literasi atau kultur keberaksaraan. Tulisan ini ingin menggambarkan peran teknologi seluler dalam memajukan budaya masyarakat agraris dalam rentang ekonomi serta pendidikan.

***

Kira-kira lima tahun silam, sebelum Ibu saya mengenal ponsel, tidak menjadi masalah baginya ketika harus mencari buruh tani ke desa maupun kecamatan sekitar. Sebagai kebudayaan, pertanian memang mempunyai dimensi sosial dimana kohesi sosial terbangun kental. Pertemuan fisik untuk urusan ketenagakerjaan pertanian pun bukan sekadar transaksi ekonomis, tapi juga pemeliharaan kepercayaan (trust). Di sisi lain, meskipun harus melintasi jalanan yang berbatu dan becek, berkunjungnya Ibu saya mencari tenaga buruh tani ini nyaris tak pernah mengecewakan karena melimpahnya tenaga buruh.

Kondisi itu sudah tidak bisa lagi dirasakan sekarang. Ketika membutuhkan tenaga buruh tanam padi, Ibu saya harus antri. Ini lantaran sudah jarang sekali generasi muda yang mau bertani. Hasil Survei Struktur Ongkos Usaha Tani Tanaman Pangan (SOUTTP) yang dilaksanakan BPS pada tahun 2011 menunjukkan bahwa 32,66 persen petani dengan nilai produksi terbesar tidak tamat Sekolah Dasar (SD), 42,32 persen hanya tamat SD, dan 14,55 persen hanya tamat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Selain itu, dari segi umur, petani kita dodominasi oleh mereka yang berumur tua. Hasil SOUTTP juga menunjukkan sekitar 47,57 persen petani yang memiliki produksi terbesar berumur lebih dari 50 tahun.

Data senada dihimpun oleh Perhimpunan Sarjana Petani Indonesia, menunjukkan ketersediaan petani di lumbung-lumbung pertanian di dominasi petani yang usianya di atas 45 tahun. Henry Sarigi, Ketua Serikat Petani Indonesia pun menegaskan bahwa Indonesia tengah mengalami krisis petani muda, terutama di Cianjur, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan Sulawesi (http://www.tribunnews.com/2011/12/29/indonesia-mengalami-krisis-jumlah-petani).

Temuan tersebut kian memperkuat proposisi yang telah terbangun selama ini, bahwa menjadi petani adalah sesuatu yang tidak dinginkan dalam rencana hidup sebagian besar generasi muda bangsa ini. Sesuatu yang tentu saja sangat mengkhawatirkan dalam upaya menjamin ketersediaan pasokan pangan yang mencukupi bagi lebih dari 200 juta penduduk negeri ini, tanpa harus mengorbankan cadangan devisa dengan mengimpor dari luar tentunya.

Salah satu sebabnya boleh jadi lantaran kegiatan bertani dan bercocok tanam di Indonesia masih lekat dengan kerja kasar. Sementara bangsa ini sedang bergerak dan mencoba mendefinisikan dirinya menjadi bangsa yang ‘modern’ dan ‘canggih’. Dan modernitas yang dikonstruksikan oleh negara selama ini adalah kehidupan menak dan priyayi yang lantas menjadi pikiran bawah sadar masyarakat. Maka memang akan terasa susah meningkatkan minat ke sektor pertanian.

Padahal, pertanian di Indonesia masih padat karya, dimana tenaga manusia masih sangat dibutuhkan. Mulai dari tanam (tandur), mencangkul untuk merapikan pematang (nggarap galeng), menyiangi tanah (kecrek), mencabuti gulma di sela-sela tanaman (matun), sampai panen.

Menyimak sekilas, mayoritas penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan, dimana pertanian menjadi aktivitas mayoritasnya. Kalau Bung Hatta pernah menggagas bahwa soko guru perekonomian Indonesia adalah koperasi, itu benar di tataran ide, konsep dan wadahnya. Menurut saya, dalam praktiknya, soko guru perekonomian Indonesia adalah pertanian dengan masyarakat agrarisnya. Ini menjadi bukti meskipun 2008 lalu dan akhir-akhir ini dunia dilanda krisis ekonomi global, perekonomian Indonesia masih tetap tumbuh pada kisaran angka 5-6.

Sayangnya, ranah pertanian kerap luput dari perhatian utama kebijakan-kebijakan negara, baik di level pusat maupun daerah. Pupuk tetap mahal, sudah begitu kerap langka di pasaran. Giliran panen datang, harga produk pertanian—terutama gabah—menjadi permainan tengkulak. Di Jakarta sana, birokrat pertanian sibuk dengan hitung-hitungan impor beras yang harganya memang lebih murah dibanding harga gabah dalam negeri. Dengan mantra swasembada pangan tentunya.

Pembangunan pertanian di negara ini jarang menyentuh persolaan riil petani di desa. Sangat reaksioner dan instan. Ketika bencana gagal panen pertengahan tahun lalu misalnya, pemerintah sontak mengucurkan dana subsidi ganti rugi. Kebijakan ini menurut saya memang berguna, tapi pemerintah seolah menutup mata untuk memerhatikan musabab gagal panen, yakni hama. Di daerah saya, dana gagal panen ini banyak yang tidak tersalurkan kepada yang berhak. Tidak tahu, adapakah mandeg di dinas pertanian, pengurus kelompok tani, atau pamong desa? Yang jelas, penyalurannya lewat mereka. Sejauh pengamatan saya, banyak petani tetangga-tetangga saya—termasuk orang tua saya sendiri—yang tidak mengetahui adanya ganti rugi gagal panen ini.

Sengkarut problematika pertanian di bangsa agraris ini menjadikan masa depan pertanian suram. Semakin banyak petani ataupun buruh tani yang beralih ke profesi lain. Merantau ke kota jadi buruh pabrik. Ke luar negeri jadi TKI. Begitu pula generasi muda, selain minat jurusan pertanian di perguruan tinggi menurun, nyaris tak ada yang bercita-cita jadi petani.

Kini, Ibu saya kesulitan mencari tenaga untuk tandur. Ibu-ibu langganannya sudah banyak yang berhenti seiring rentanya usia. Semakin banyak pula penggarap sawah yang mencari tenaga buruh—semakin tinggi persaingan.

Beruntunglah kini teknologi seluler sudah menjangkau seluruh pelosok negeri. Nyaris semua warga negera dari berbagai kalangan ekonomi dan sosial sudah menggunakan ponsel. Tak terkecuali para petani maupun buruh tani di pedesaan, baik kaum pria maupun wanita. Di tengah persaingan mencari tenaga buruh tani itu, Ibu saya lantas membeli ponsel. Kini Ibu tak perlu repot-repot tandang ke rumah para buruh tani untuk meminta bantuan tenaga. Tak ada lagi rasa kecewa seperti saat tandang dan mereka tidak bisa. Di sini, peran teknologi seluler menemukan kontek dan relevansinya dalam kontribusinya terhadap keberlangsungan pertanian.

Ponsel dan Kultur Keberaksaraan

Data yang dirilis lembaga riset industri seluler Wireless Intelligence menunjukkan, pasar industri seluler di Indonesia pada akhir 2010 sudah mencapai 200 juta. Sementara pengguna ponsel di Indonesia mencapai 197 juta pada akhir kuartal III 2010 (http://www.indopos.co.id/index.php/arsip-berita-internasional/39-internasional-news/6957-industri-seluler-indonesia-jadi-bahasan.html).
Massifnya penggunaan ponsel di Indonesia dimana penduduk mayoritasnya adalah petani, turut berkontribusi pada menguatnya kultur keberaksaraan. Sebagaimana yang saya rasakan, kehidupan agraris jauh dari tradisi keberaksaraan. Saya sendiri besar di keluarga agraris. Kesadaran keberaksaraan—atau lebih umum lagi pendidikan—yang bergairah di keluarga saya banyak dipengaruhi oleh tetangga yang—merujuk pada kategorisasi Clifford Geertz tentang masyarakat Jawa: santri, abangan, priyayi—bisa dibilang termasuk priyayi.

Sebagai masyarakat agraris, keluarga saya menekankan pada anak-anaknya untuk mengerti soal sawah (pertanian). Sejak kecil sebelum sekolah sampai kuliah ini saya masih diminta untuk membantu pekerjaan-pekerjaan di sawah. Namun di sisi lain, mereka tidak mengharapkan anak-anaknya kelak menjadi petani. Harapan ini juga berlaku bagi semua tetangga saya yang berprofesi sebagai petani dan menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang pendidikan tinggi. “Kelak kalau sudah sarjana, jadilah orang yang sukses di kota, tidak usah kerja di sawah. Petani itu sengsara,” begitu Ibu dengan repetitif mewanti-wanti saya.

Harapan itu semakin kuat ketika kandungan minyak dan gas (migas) Blok Cepu dan Blok Tuban di wilayah Bojonegoro mulai dieskploitasi oleh perusahaan asing. Banyak yang bilang Bojonegoro sedang mengalami masa transisi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri seiring dibukanya tambang migas Blok Cepu dan Blok Tuban. Sekilas memang tampak seperti itu. Siapa saja yang datang ke Bojonegoro—sebuah kabupaten di bilangan barat Jawa Timur—dari arah barat, timur, selatan, dan utara, akan disambut dengan gemerlap lampu perusahaan tambang dan kobaran api semburan sumur dan kilang migas.

Kini, nyaris semua tetangga-tetangga saya, terutama kaum muda, berharap bisa dipekerjakan pada sektor tambang migas. Harapan kian membuncah ketika pertanian memang dirasa sudah tidak bisa memberi harapan kesejahteraan. Sementara peluang pekerjaan di kota—entah buruh apapun—semakin ketat. Sudah begitu, bagi tetangga-tetangga saya yang tinggal di sekitar sumur migas, lahan pertanian mereka sudah “dibeli” untuk keperluan eksploitasi.

Harapan ini saya nilai naif karena tambang migas adalah industri padat modal dan teknologi yang tidak membutuhkan tenaga kerja dari berbagai level pendidikan. Tanpa tertanam-kokohnya kesadaran pendidikan, harapan itu laiknya mimpi di siang bolong. Saya tidak hendak menyalahkan mereka lantaran latar belakang pendidikan masyarakat agraris masih rendah. Angka partisipasi pendidikan warga Bojonegoro di level menengah masih sangat rendah (50,25 persen pada tahun 2007). Pemeretaan pendidikan masih saja menjadi komoditas isu politik yang tak pernah ada rampung. Tak berlebihan kiranya jika saya mengklaim masyarakat Bojonegoro tidak punya pilihan di tengah kian gemerlapnya industri tambang.

Massifnya penggunaan ponsel ternyata punya peran signifikan dalam memupus harapan naif itu. Penggunaan ponsel turut menyadarkan masyarakat agraris di Bojonegoro akan pentingnya keberaksaraan, khususnya minat baca dan kesadaran berliterasi. Peran ini tidak datang tiba-tiba. Melainkan dibarengi oleh aksi sosial aktivis-aktivis lokal dalam pemberdayaan pendidikan masyarakat. Tercacat dua lembaga sosial masyarakat, yakni Society Education Centre (SEC) dan Lembaga Informasi Masyarakat Banyuurip Bangkit (Lima 2B), merespon keprihatinan yang terjadi di masyarakat Bojonegoro tersebut.

Sejak 2009 lalu, SEC menggalakkan program kampanye baca. Para pemuda lokal yang tergabung di dalamnya memfasilitasi pembentukan dan pengembangan perpustakaan-perpustakaan komunitas yang terlembagakan dalam Taman Bacaan Masyarakat. Merespon kehadiran perusahaan migas, mereka lantas memanfaatkan cipratan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan migas asing untuk mengembangkan kampanye baca. Dua mobil perpustakaan keliling mereka dapatkan. Mobil yang dilabeli dengan nama Mobil Layanan Informasi (MoLI) itu dipenuhi ratusan koleksi buku dari ragam bidang pengetahuan. Setiap hari dua mobil bercat doniman merah itu berkeliling di kampung-kampung sekitar sumur migas Blok Cepu, berhenti di sekolah-sekolah SD dan madrasah untuk melayani para siswa dan di balai-balai desa untuk melayani ibu-ibu PKK membaca.

Awalnya, mereka merasa kesulitan menggerakkan masyarakat di sekitar sumur migas untuk membaca, baik siswa sekolah maupun orang biasa. Maklum, sumur migas Blok Cepu di Bojonegoro berada di sekitar masyarakat agraris, sudah begitu tergolong kawasan pinggiran. Macam-macam usaha yang dilakukan. Salah satunya dengan memberikan informasi yang berisi ajakan untuk membaca melalui layanan pesan pendek atau SMS. Setiap hendak datang, para pegiat SEC memberi informasi kepada para guru di SD dan madrasah untuk menyiapkan para siswa-siswi memanfaatkan koleksi MoLI.

Dari sekian juta pengguna ponsel, anak-anak adalah kalangan yang tidak sedikit. Di desa-desa, anak-anak menjadi pengguna ponsel yang bahkan mengajari para orang tua mereka. Meskipun tingkat buta aksara di Bojonegoro tidak terbilang rendah, tapi kepekaan teknologi—penggunaan ponsel—masih menjadi hal sulit bagi para kaum tua. Dalam kasus kampanye baca oleh SEC itu, ponsel dirasa sangat membantu karena tidak hanya efektif untuk anak-anak, tapi juga orang tua yang sudah mulai melek teknologi ponsel berkat diajari anak-anak mereka.

***

Cerita senada dirangkai oleh sekelompok pemuda sekitar sumur migas yang menerbitkan media tabloid Suarabanyuurip. Media yang mulai meruang publik pada 2006 ini mengukuhkan dirinya sebagai pengawal eksploitasi Blok Cepu. Awalnya, Suarabanyuurip dicetak 1000 eksemplar dan dijual Rp3.500. Alih-alih membeli tabloid, untuk membeli buku pelajaran sekolah anak-anaknya saja masyarakat sekitar Blok Cepu merasa keberatan. Apalagi kesadaran literasi masih terbatas tertanam pada kalangan priyayi—guru, PNS, dan beberapa pamong desa.

Keberadaan ponsel pun belum bisa membantu banyak promosi Suarabanyuurip. Murahnya tarif dari operator seluler sebatas membantu kinerja para pegiatnya. Ponsel menjadi alat komunikasi utama para aktivis Lima 2B untuk mencari informasi, berkoordinasi, lantas menerbitkan berita.

Belum ada riset dan data kuantitatif yang mengungkapkan efektivitas atau tingkat terpaan Suarabanyuurip. Apakah Suarabanyuurip dibaca oleh warga sekitar sumur migas? Yang jelas, dalam perkembangannya, Suarabanyuurip mendapat sponsor dari perusahaan migas Blok Cepu Mobil Cepu Ltd, anak perusahaan Exxon Mobil dari negeri Paman Sam, sehingga bisa tetap menerbitkan 1000 eksemplar tabloidnya saban bulan. Suarabanyuurip lantas dibagi-bagikan ke kantor-kantor pemerintah, dari desa hingga kabupaten, sekolah, madarasah, lembaga-lembaga sosial masyarakat hingga warung-warung kopi tempat nongkrong warga di desa-desa seluruh kawasan terdampak eksploitasi Blok Cepu. Kini, ketika Suarabanyuurip telat terbit atau tak diantar, mereka kerap menanyakan.

Dengan ponsel, para pegiatnya juga mengabarkan kepada para rekan mereka ketika tabloid ini terbit. Lantas, bagaimana jika ada orang yang hendak baca Suarabanyuurip tapi lokasinya jauh dari kantor Lima 2B di Gayam, Bojonegoro?

Di tahun ketiga usianya, tahun lalu, Lima 2B pimpinan Mugito Citropati ini mengembangkan konsep medianya dengan menayangkan media daring (online), Suarabanyuurip.com. Pengembangan ini didasari pada kepekaan Mugito dkk akan kian massifnya penggunaan internet sampai ke desa mereka, terutama melalui smartphone (ponsel cerdas). Suarabanyuurip.com menjadi jawaban pertanyaan di atas. Selain melaporkan berita-berita singkat setiap perkembangan eksploitasi Blok Cepu, Suarabanyuurip.com juga mengunggah tabloidnya versi pdf untuk bisa diunduh para pembaca.

Semenjak itu, Mugito beserta rekan-rekannya lantas banyak yang menggunakan smartphone untuk memantau media Suarabanyuurip.com. Smartphone memberikan fasilitas jaringan akes internet yang mudah dengan tarif dari operator yang terjangkau.

Semakin murah harga smartphone dipasaran, menjadikan para pegiat Lima 2B membagi informasi-informasi seputar perkembangan industri migas Blok Cepu melalui ruang mayantara facebook dan twitter. Kian massifnya media sosial facebook dan twitter ini menjadikan warga Bojonegoro dan siapapun yang peduli terhadap dinamika industri migas Blok Cepu di seluruh dunia lebih aksesible untuk mengetahui, berpartisipasi informasi, atau sekadar mengintip informasi seputar industri migas Blok Cepu dari perspektif lokal.

Media sosial, terutama facebook, sudah digunakan oleh nyaris semua kalangan kaum muda di pedesaan. Para pegiat Suarabanyuurip yang merupakan penduduk lokal sekitar sumur akan lebih mudah membagi tautan informasi di media daringnya kepada teman-teman di facebook yang kebanyakan adalah tetangga-tetangga mereka. Sedikit demi sedikit, tetatangga-tetangga mereka kian terterpa informasi seputar Blok Cepu melalui facebook. Membanjirnya produk smartphone dari China yang harganya murah menjadikan warga di pedesaan juga banyak yang mengganti ponsel mereka.

Smartphone, facebook serta terpaan dan kesadaran informasi seputar sumur migas di samping rumah warga. Baru-baru ini, Mugito sangat meresahkan kondisi kaum muda tetangganya yang nyaris semuanya ingin jadi tenaga keamanan di perusahaan migas. Dia dkk pun semakin rajin mengunggah berita seputar industrialisasi migas Blok Cepu, terutama seiring dibukanya pengembangan eksploitasi untuk mengejar target produksi puncak 165 ribu barel per hari. Laiknya hujan yang mengguyur bumi, begitulah informasi Suarabanyuurip.com yang dibagikan via facebook dan twitter, seperti ribuan tetes air hujan yang akhirnya membuat bumi basah.

Hanya saja, jaringan akses data melalui teknologi seluler yang setingkat 3G belum menjangkau seluruh pedesaan, termasuk di Bojonegoro. Akses 3G baru bisa dinikmati di kawasan kota. Penggunaan smartphone oleh warga pedesaan untuk mengakses data pun belum bisa maksimal. Masih sering tersendat dengan jaringan EDGE atau bahkan GPRS. Akibatnya, para pengakses data internet di pedesaan pun mesti menunggu lama untuk loading.

Ini adalah tantangan bagi industri seluler agar kian rajin memancangkan tower-towernya yang menghubungkan jaringan 3G dan lebih jauh lagi HSDPA. Apalagi sekarang teknologi informasi akses data sudah berkembang ke HSUPA. Saya membayangkan, ketika teknologi seluler di pedesaan sudah sampai pada 3G, HSDPA atau HSUPA, akses informasi untuk proyek literasi warga di sekitar sumur migas Blok Cepu akan kian massif. Memang terlampau jauh untuk merealisasikan bayangan tersebut guna menderdaskan warga di pedesaan, tapi teknologi informasi internet telah terbukti mampu menjadi saluran alternatif pencerdasan warga negara-bangsa menjadi masyarakat madani, dalam menyampaikan pendapat serta menggalang gerakan sosial.

Yang jelas, Lima 2B dengan Suarabanyuurip-nya dan SEC dengan MoLI-nya berharap, meskipun susah, perjuangan mereka memproduksi dan membagikan informasi serta pengetahuan setetes demi setetes bisa membuat warganya sedikit lebih basah (mengerti), tak hanya seputar industri migas, tapi soal identitas diri sebagai masyarakat agraris. Kalau sudah “basah”, warga Bojonegoro akan lebih bisa membuat pilihan-pilihan hidup di tengah panasnya kobaran api sumur migas di sebelah rumah.

0 komentar:

newer post older post