Telusuri

Memuat...

Berbagi Rasa Berbagi Buku



0 komentar
Beberapa anak sedang membaca buku di perpustakaan komunitas di lereng Merapi, Muntilan.
Sebagai mahasiswa, mau tidak mau aku harus menjalin kemesraan dengan buku. Beberapa mahasiswa boleh lebih melilih mesra dengan pacar dan cenderung menghindari buku sebagai teman kencan sehari-hari. Kalau aku sih akan lebih menyeimbangkan keduanya—meskipun hubungan di antara keduanya berada dalam konteks berbeda. Tapi soal waktu tetap menjadi basis asumsi yang sama. Selanjutnya, aksesibilitas terhadap keduanya menjadi persoalan serius.

Di sini aku tidak akan membicarakan akses terhadap pacar—meskipun kebutuhan itu tak kalah penting ketimbang buku. Namun akses terhadap buku lebih penting untuk dibicarakan di sini karena merupakan persoalan publik. Sedangkan akses terhadap pacar berada di ranah privat, bukan?

Aksesibilitas terhadap buku sampai sekarang bagi masyarakat Indonesia mayoritas, khususnya di kalangan akademisi terutama mahasiswa, masih menjadi persoalan serius dalam proses pengembangan budaya akademik-ilmiah. Dalam ruang yang lebih luas, aksibilitas terhadap buku kerap di-klaim sebagai penghambat pemajuan budaya dan minat baca. Argumen yang sering diajukan sebagai penyebabnya adalah mahalnya harga buku dan terbatasnya fasilitas pelayanan baca gratis (perpustakaan). Sebagai penjamin hak asasi warga negara, pemerintah pun menggelontarkan miliyaran rupiah untuk menyediakan dan mengembangkan perpustakaan di lingkungan akademik maupun lingkungan sosial. Begitu juga dengan perusahaan melalui program corporate social responsibility (CSR)-nya. Dalam perspektif struktural, aku tertarik pada gerakan-gerakan sosial yang dilancarkan kalangan masyarakat sipil dalam penyediaan akses terhadap buku.

Belum lama dimulai, sekelompok mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UGM melancarkan gerakan itu. Melalui integrasi ruang maya dan ruang nyata, mahasiswa komunikasi UGM Damar Wijayanti dan Lolitya Anindita memotori gerakan penyediaan media aksesibilitas terhadap buku melalui program Hand a Book. Selain tertarik untuk menyoroti aktornya—masyarakat sipil, bukan pemerintah dan pasar—program ini mengusung nilai sosial tinggi, yakni kedekatan emosional dalam konteks interaksi sosial sebagai dasar logikanya.

Melalui Hand a Book, Damar dan Loli mengkampanyekan sedekah buku di lingkungan kecil akademis: mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM. Menggunakan laman www.handabook.co.cc sebagai ruang utamanya, terlihat bagaimana kepekaan mereka terhadap revolusi komunikasi paling mutakhir di abad ini, tinggi. Revolusi komunikasi dengan internet yang meretas sekat ruang dan waktu realitas nyata terbukti ampuh merekatkan interaksi sosial, baik dalam konteks interpersonal, kelompok, hingga gerakan civil society.
Melalui Hand a Book, mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM bisa saling mendermakan buku (komunikasi) secara online. Sejatinya, tanpa Hand a Book pun kita tetap bisa menyedekahkan buku secara leluasa.

Namun, hasil riset Damar dan Loli menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung tidak punya kesempatan untuk menjalin komunikasi guna menyedekahan buku mereka, padahal keinginan itu tinggi. Selain waktu, aku ingin menambahi faktor lain, yakni sungkan. Ini pengalaman pribadiku sih. Aku cenderung sungkan untuk langsung menawarkan buku-buku kepada sesama mahasiswa. Di sisi lain, aku yakin sebagian mahasiswa juga sungkan untuk mengungkapkan bahwa dia butuh buku (secara gratis). Terlebih dari itu, kita kerap kesulitan untuk mendapatkan jenis buku yang relevan sebagai rujukan kuliah. Selain harga, tentu saja tidak tersedianya buku-buku itu secara melimpah di perpustakaan dan toko buku, menjadi sebab utamanya. Nah, Hand a Book menjadi ruang alternatif yang bisa menghindar dari sebab-sebab itu.

Ketika buku-buku yang disedekahkan terunggah di laman www.handabook.co.cc, kita bisa melihatnya dengan leluasa, tanpa harus datang ke kamar kos, kontrakan, atau rumah yang kadang membuat kita sungkan. Yang jelas, kita juga bisa mendapatkan buku-buku yang tentunya relevan dengan studi komunikasi.

Ada lagi—sudah dijelaskan di laman sih, tapi aku ingin menegaskannya—dituliskannya catatan kecil di buku yang ditujukan kepada pewaris buku, selain dapat (dan memang diniatkan) menjalin kedekatan personal antara penyedekah dan pewaris, catatan itu bisa membangun kedekatan akademik seutuhnya: kehadiran penyedekah di catatan itu, selain sebagai personal, sekaligus (bisa) mewakili dirinya sebagai insan akademik komunikasi. Sisi ini mendobrak kecenderungan terkungkungnya dialektika akademis di ruang kuliah saja, lantaran di titik ekstrim, berdasarkan yang aku rasakan, beberapa teman melakukan escapism dari dirinya sebagai akademisi komunikasi, ketika keluar dari ruang kuliah. Selain catatan kecil itu, komunikasi melalui twitter dan face book untuk keperluan Hand a Book ini juga memupuk kemesraan akademik sekaligus personal.

Karena, catatan kecil dan komunikasi online itu rasa-rasanya bisa disetarakan dengan pengantar buku oleh penulis yang ditulis selain dengan berfikir tapi juga (bahkan lebih dominan) dengan rasa. Tidak berlebihan kiranya jika aku memaknai Hand a Book sebagai media berbagi buku sekaligus berbagi rasa. Tidak berlebihan juga jika penganalogian cinta dalam karya sastra dengan buku yang tidak pernah tamat untuk dibaca oleh almarhum Rendra, di tangan Hand a Book menjadi bukan analogi lagi, tapi perpaduan yang harmonis dan manis. Lebay mode onhehe. Kesanku, Hand a Book itu cerdas dan solutif.

0 komentar:

newer post older post