Telusuri

Memuat...

Berfikir Logis dan Kritis dalam Menulis



0 komentar
Tulisan Hadziq Jauhariy di rubrik FHK (4/4) merupakan sanggahan atas tulisan Yodie Hardian di rubrik FHK sebelumnya yang menyamakan penulisan di media mainstream dengan penulisan naskah akademik (makalah). Benar yang diungkapkan oleh Hadziq, “menulis di media massa tidak bisa disamakan dengan menulis makalah.”

Namun, pemikiran Yodie tidak sepenuhnya salah. Meski berbeda, tetap terdapat persamaan antara menulis makalah dan menulis artikel untuk media massa. Bahkan, persamaannya terletak pada hal paling mendasar yang menjadi pondasi bangunan keduanya, yaitu metode bernalar. Baik menulis makalah ataupun artikel di media massa, keduanya menuntut penalaran logis dan kritis.

Tulisan adalah produk pemikiran. Sebuah tulisan harus dibangun atas konstruksi pemikiran yang terdiri dari tiga komponen penting, yakni klaim, argumen, dan data. Inti dari setiap tulisan adalah klaim akan suatu hal. Sebuah klaim harus didasari dengan argumen. Klaim tanpa argumen bisa disebut ngawur. Selanjutnya, argumen yang kuat tentu membutuhkan bukti berupa data. Tanpa data, argumen tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Tulisan yang baik bisa dinilai dari logis atau tidaknya ketiga komponen yang berkaitan tersebut. Argumen akan suatu klaim haruslah logis. Jangan sampai memberikan argumen yang tidak ada hubungannya dengan sebuah klaim itu sendiri. Pun dengan bukti, data yang disajikan untuk memeperkuat argumen juga harus logis.
Proses penalaran seperti itu tidak hanya berlaku dalam penulisan. Lebih dari itu, proses penalaran yang memperhatikan ketiga komponen itu lah yang disebut bernalar secara logis dan kritis. Tentu, kemampuan itu harus dimiliki oleh semua mahasiswa.

Dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mendeskripsikan suatu hal atau sebuah fenomena (kemampuan deskriptif). Level pembelajaran atau berfikir mahasiswa harus melebihi itu, yakni analitis, kritis, bahkan hingga solutif. Level berfikir ini harus diwujudkan dalam setiap aktivitas pembelajaran, baik dalam diskusi maupun dalam penulisan naskah ilmiah.

Menulis adalah aktivitas yang dapat melatih kamampuan berfikir logis dan kritis. Apalagi menulis untuk media massa, selain harus dibangun dengan klaim, argumen dan data yang logis, tulisan dibatasi, harus singkat dan padat. Ini tentu dapat mempertajam daya kritis dalam melihat realitas di sekitar kita. Oleh karenanya, saya mengamini rekomendasi Hadziq agar terus berlatih menulis untuk media massa. [Suara Merdeka (11/04/2009)] 

0 komentar:

newer post older post