Telusuri

Memuat...

Memburu Fakta Hingga ke Lubang Tikus*



0 komentar
Laporkanlah apa yang dilihat dan didengar, demikian perintah itu, maka kebenaran akan muncul (Luwi Ishwara)

Tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup merdeka dan mengatur diri sendiri.[2] Menurut Luwi Ishwara,[3] karya utama kerja jurnalistik—berita atau tulisan informatif—senantiasa bertumpu pada fakta. Lantas, apa yang mesti dilakukan untuk dapat mencapai tujuan itu? Untuk menyampaikan informasi terkait sebuah fakta, jurnalis pun harus mengumpulkan informasi seputar fakta itu. Menggali informasi atau keterangan dari pelbagai sumber. Menelusuri dan merangkum fakta, melakukan verifikasi, lalu menuliskannya. Nah, mengutip tulisan Azizah Fitriyanti,[4] serangkaian usaha untuk menggali informasi atau keterangan dari pelbagai sumber itulah yang disebut reportase.

Informasi yang digali dapat berupa apapun. Pendapat orang lain, kesan, pengalaman, serta data-data yang terangkum dalam pelbagai dokumen. Semua itu harus “detail”. Akurat dan valid. Sesuai dengan salah satu dari sembilan prinsip jurnalisme ala Bill Kovach, yaitu kebenaran. Kebenaran menuntut akurasi dan validitas. Akurat berarti, kita harus mendapatkan informasi yang pasti, yang tak bisa dibantah. Untuk mendapatkan kebenaran dari suatu fakta, memang diperlukan usaha yang tak enteng. Di sini, ketekunan seorang reporter (awak redaksi) menjadi modal utama. Dengan ketekunan lah tahap-tahap dari proses reportase akan dapat dilalui.

Selanjutnya, bagaimana tahap-tahap yang harus dilalui dari proses reportase itu?

Wartawan tak ubahnya ilmuan.[5] Sama-sama menggali data dari suatu fakta. Ilmuan menggunakan metode ilmiahnya dalam usaha pencarian data. Kerja wartawan juga tak jauh beda. Proses reportase diawali dengan melihat realitas dengan segenap indera. Untuk itu, wartawan maupun ilmuan harus peka. Mampu melihat, mendengar, dan merasakan apa yang tengah terjadi di alam sekitar dengan penuh seksama. Dari penglihatan itulah akan ditemukan suatu peristiwa, kejadian, atau fenomena yang layak untuk dijadikan berita. Menyangkut kepentingan orang banyak dan layak untuk disampaikan kepada khalayak. Satu prinsip dasar nilai berita.[6] Di Balairung, tahap awal proses reportase ini dilakukan dengan rapat tema. Biasanya suatu institusi media mempunyai kriteria khusus dan tertentu untuk menentukan peristiwa yang akan diangkat menjadi tema. Kebijakan redaksional institusi media memegang otoritas di sini.

Setelah tema ditetapkan, tentunya, dalam melihat suatu peristiwa atau fenomena terdapat banyak sudut pandang. Ya, angle penting karena sebuah tema ibarat sebuah bangunan yang mempunyai banyak sisi dan bisa dipandang dari pelbagai arah. Agar pandangan tidak kemana-mana, harus ditetapkan satu sudut pandang pada satu sisi saja. Populernya disebut angleAngle akan membatasi pandangan kita akan suatu tema agar terbangun fokus. Dengan menentukan angle, sebuah topik akan lebih mudah untuk dipetakan.
Misal, Jum’at lalu telah terjadi peristiwa angin ribut di UGM. Tentu peristiwa itu mempunyai banyak sisi kan. Nah, bisa saja kita menjadikan tema peristiwa itu. Tentu kita akan kerepotan tanpa menentukan angle dan fokus peristiwa itu. Tentu akan terasa terlalu luas. Maka, kita harus menentukanangle agar berita yang dihasilkan fokus. Misalnya kita menentukan fokus pada pengaruh angin ribut terhadap aktivitas civitas akademika.

Setelah angle dan fokus terkonstruksi, langkah selanjutnya adalah membuat outlineOutline adalah modal penting proses reportase. Outline lah yang akan mengemudikan wartawan dalam melakukan reportase. Outline merupakan kerangka konseptual permasalahan yang menggambarkan kelengkapan permasalahan.
Outline untuk reportase tidak sama dengan kerangka (outline) tulisan.Outline reportase membutuhkan pemahaman yang mendalam dan komprehensif tentang permasalahan yang akan diliput, mengimajinasikannya dalam sebuah narasi cerita. Kemudian mengembangkannya dalam kreativitas pertanyaan.[7]Setelah tersusun outline beserta draf pertanyaan, reportase kelapangan bisa dilangsungkan.

Reportase atau usaha penggalian data dapat dilakukan dengan beberapa cara. Menurut Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik, dikutip oleh Luwi Ishwara,[8] ada empat cara penggalian data, yaitu:
1.     Observasi langsung dan tidak langsung
2.     Wawancara
3.     Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik. Atau dikenal dengan istilah setudi literatur
4.     Partisipasi dalam peristiwa

Observasi langsung dilakukan dengan kontak dan penelusuran langsung pada situasi peristiwa. Narasumbernya utama, pelaku peristiwa. Sedangkan partisipasi tidak langsung dilakukan dengan penggalian data pada narasumber bukan utama.

Cara reportase yang lebih sering dilakukan dan paling memungkinkan adalah wawancara. Pengertian asli wawancara adalah konversasi atau perbincangan melalui pertemuan tatap muka. Komunikasi interposal yang terbangun didalamnya. Prinsip dasar bagi wartawan dalam melakukan wawancara adalah; pewawancara tidak banyak berbicara dan keterusterangan. Terbuka dan perhatian. Kebohongan akan menuai kebohongan. Sebaliknya, penting untuk diperhatikan, ketulusan akan membuahkan ketulusan. Buatlah suasana dalam proses wawancara sebebas mungkin. Namun serius. Karena, tujuan utama dari wawancara adalah memancing narasumber untuk mengatakan apa yang sebenarnya dipikirkan dan dirasakan.

Selain observasi dan wawancara, penggalian data dapat dilakukan melalui studi literatur. Literatur itu dapat berupa dokumen-dokumen publik yang telah tersedia. Bisa buku, kamus, tesaurus, ensiklopedi, dokumen-dokumenlife history, dan catatan-catatan administrasi. Langkah ini juga penting dan biasa dilakukan pada tahap prareportase. Kini, studi literatur dapat mudah dilakukan karena ada internet. Kiranya internet menyediakan banyak dokumen-dokumen publik yang bebas diakses. Oleh karenanya, seorang reporter dituntut untuk rajin membaca. Aktivitas penggalian data serta menulis tak dapat dipisahkan dari aktivitas membaca.

Secara lebih ringkas, langkah-langkah reportase dapat dilakukan dengan beberapa tahap berikut:
Pertama, setelah masalah terumuskan, menentukan angle. Lalau membuat outline. Penguasaan materi permasalahan menjadi harga mati sebelum observasi. Penguasaan materi dapat dicapai melalui pencarian data-data yang telah tersedia. Setelah memahami permasalahan sepenuhnya, membuat draf pertanyaan dari yang bersifat umum hingga detail.

Kedua, dengan bekal penguasaan permasalahan tema yang diangkat, reporter menentukan para narasumber. Siapa saja narasumber yang harus diwawancarai.

Ketiga, mencoba mengenali karakter para narasumber. Dengan bekal ini, reporter akan dapat mengusai emosi narasumber. Proses wawancara pun akan berjalan dengan mulus.

Keempat, untuk melakukan wawancara, buatlah janji dengan narasumber. Dan janji ini biasanya mudah diingkari oleh para narasumber. Oleh karena itu, seorang reporter dituntut untuk sedia setiap saat.

Kelima, hal yang dianggap sepele. Jarang dijadikan bahan pembicaraan tapi sering dibicarakan, yaitu persiapan teknis. Terkait dengan peralatan yang dibutuhkan seperti alat tulis (buku catatan dan pulpen), recorder, serta kamera bila diperlukan.

Keenam, persiapan yang tak kalah penting. Mental. Semua tahapan itu akan sia-sia tanpa bekal mental yang matang. Karakter narasumber yang berbeda-beda harus dikendalikan dengan kekuatan mental seorang reporter.

Namun, mental saja tak cukup. Bambang Harimurty,[9] Pemred Majalah Tempo, menempatkan hal terpenting dalam proses reportase pada semangat reporter. Semangat pantang mundur. Wartawan ibarat gelombang dan penjahat-penjahat itu sebagai batu karang. Pada saat gelombang menggempur karang, seakan gelombang itu yang terpecah, namun perlahan karang tersebut akan kikis pula oleh gelombang walaupun lama dan sulit.

Dengan bekal mental yang matang dan semangat pantang mundur, seorang reporter diharapkan mampu mengejar narasumber atau sumber berita sejauh apapun. Bila perlu, sampai ke lubang tikus pun sumber berita harus dikejar.[10]


*Disampaikan pada Diklat Divisi, Teknik Reportase, untuk Tim Magang 2, BPPM Balairung. Rabu, 12 November 2008.
[2] Bill Kovach dan Tom Rosentiel. 2003.Elemen-elemen Jurrnalisme.Jakarta:ISAI
[3] Catatan-catatan Jurnalisme Dasar.2005.Jakarta:Kompas.Hlm.68
[4] Dua Puluh Lima Paragraf Mengenal Reportase. Disampaikan dalam diklat jurnalistik BPPM Balairung pada 14 November 2007. Azizah Fitriyanti adalah Redaktur Bahasa BPPM Balairung 2007-2008.
[5] Indi Aunullah.Wartawan dan/atau Ilmuan. Dapur Jurnal Balairung Jejaring Dunia Maya. Edisi 38/XIX/2005
[6] Penjelasan tentang nilai-nilai berita secara lebih rinci akan disampaikan pada diklat berikutnya—penulisan berita.
[7] Lukman Solihin. 2005.Rencana Liputan dalam Sebuah Outline.Disampaikan dalam diklat Divisi BPPM Balairung 2005
[8] Op. Cit. Hlm.67
[9] Majalah Tempo dan Jurnalisem Investigatif dalam Media, Pemilu, dan Jurnalime Investigatif.2005. Jakarta:Unesco. Hlm.54-55
[10] L.R.Baskoro, Redaktur Utama Kompartemen Hukum dan Kriminalistik Majalah Tempo. Majalah Tempo edisi 20-26 Oktober 2008. Hlm. 30

0 komentar:

newer post older post