Senin, 10 Agustus 2009

Kesesatan Cendekiawan

Melihat kecenderungan para cendekiawan bangsa yang sudah terjun ke ranah politik sejak muda, saya langsung teringat Julian Benda. Cendekiawan asal Perancis itu dengan tegasnya telas menulis La Trahison des Clercs (1927), yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Pengkhiantan Kaum Cendekiawan (1997). Benda menuduh para cendekiawan yang terjun ke ranah politik sebagai pengkhianat.

Perdebatan keterlibatan kaum cendekiawan ke arena politik sudah terjadi sejak lama. Sebagaimana yang diungkapkan Benda, cendekiawan sejati ‘haram’ untuk bermain di arena politik. ini lantaran arena politik sarat akan pertarungan dan perebutan kekuasaan. Siapa saja yang bermain di dalamnya bakal menghalalkan segala cara untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.

Sedangkan cendekiawan, menurut Benda, adalah orang-orang yang tugasnya membela nilai-nilai abadi dan tanpa pamrih. Dick Hartoko (1980) dalam pengantarnya pada “Golongan Cendekiawan, Mereka yang Berumah di atas Angin”, menyebut cendekiawan sebagai musafir yang mencari dan memberi arti kepada segala sesuatu yang dijumpainya. Mereka tidak silau oleh apa yang nampak, tapi menerangkan apa yang tersembunyi di belakang gejala-gejala yang dicerapnya dengan pancaindera.

Letak kontroversialnya adalah pada kekuasaan dan sesuatu yang nampak. Kekuasaan adalah sesuatu yang nampak, sifatnya duniawi dan praktis. Tanggung jawab moral cendekiawan adalah membumikan ilmu pengetahuan dengan segala nilai-nilainya yang abadi dan abstrak, serta berlaku bagi tiap zaman dan keadaan. Nilai-nilai itu merujuk pada Kebenaran (La Justice), Keadilan (La Verité) dan Rasio (La Raison).

Ketika cendekiawan melibatkan diri pada medan politik dan membela satu golongan, partai politik, atau salah satu calon presiden saja, berarti mereka menyerah pada kekuasaan dan tentu saja memperjuangkan kepentingan golongan yang dibelanya itu. Ketika mereka menyerahkan diri untuk menjadi prajurit pemburu kekuasaan, bukan nila-nilai abadi lagi yang diperjuangkan, tapi nilai-nilai praktis dan hanya berlaku dalam konteks kekuasaan yang dibelanya. Ini bertentangan dengan tugas utama cendekiawan, yakni memelihara persaudaraan, membina kebudayaan bersama, dan mengawal peradaban, tanpa pamrih.

Ironisnya, akhir-akhir ini, banyak cendekiawan yang memilih untuk menghamba pada kekuasaan. Independensi cendekiawan pun dipertanyakan. Meski bukan hal baru, namun perdebatan ini senantiasa seksi.

Ada beberapa musabab yang dapat diraba. Pertama, beberapa cendekiawan kurang memahami posisi sejati mereka sebagai cendekiawan. Mereka marasa, untuk mengabdikan ilmunya kepada masyarakat, harus melalui posisi strategis dalam kekuasaan. Padahal, Antonio Gramsci telah menegaskan posisi kaum cendekiawan sebagai kelas menengah yang harus menjembatani masyarakat kelas bawah dan masyarakat kelas atas, termasuk di dalamnya penguasa.

Kedua, kekuasaan dekat dengan hal yang sifatnya duniawi, yakni harta dan tahta. Dua hal ini sangat menyilaukan. Siapapun akan mudah tergoda, tak terkecuali kaum cendekiawan. Hanya mereka yang mempunyai dasar moral kuat akan kesederhanaan dan mahfum posisinya sebagai cendekiawan, yang bisa menghindari ‘nikmat sementara’ harta dan tahta, serta tetap membumikan ilmunya, sehingga menjadi Cendekiawan Sejati atau Intelektual Progresif kata Gramsci.

Mudahnya kaum terpelajar terjerembab ke dalam lembah kekuasaan lantaran sifat dasar manusiawinya yaitu survival for the fittest masih mengalahkan moral humanitarian, egalitarian, dan altruismenya. Sifat-sifat ini tak bisa ditumbuhkan dengan instan. Pemupukannya membutuhkan proses lama, yang dimulai dari institusi pendidikan dasar dan lingkungan terdekat keluarga.

Ketiga, pencitraan ranah politik yang gegap-gembita melalui media akhir-akhir ini semakin menyilaukan mata para cendekiawan. Ini didukung oleh redupnya citra cendekiawan yang jarang diexpose oleh media massa dan jauh dari populatiras. Cendekiawan seakan tak mendapatkan porsi yang memadai dalam pencitraan di media dibandingkan politikus. Cendekiawan pun memilih menjadi politisi agar terkenal bak selebritis.

Memang, menurut Edward Shills (1980) dalam tulisannya “Kaum Cendekiawan”, salah satu tugas cendekiawan adalah memainkan peranan politik. Namun yang dimaksud Shills bukanlah terjun langsung dalam perang posisi politis, melainkan memberikan pengaruh perubahan sosial melalui kebijaksanaan-kebijaksanaan yang disampaikan kepada para eksekutif, untuk selanjutnya diterapkan dalam kebijakan publik. [*]

Senin, 01 Juni 2009

Penulis adalah Ilmuwan

Aktivitas menulis tak jauh beda dengan kerja ilmiah. Keduanya memerlukan daya kepekaan terhadap fenomena di sekitar. Kepekaan itulah yang kemudian menjalar ke naluri pengamatan. Tentunya, pengamatan itu tak sekadar melihat realitas lalu melupakan begitu saja tanpa membekas di dalam memori pikir. Pengamatan itu meliputi kekritisan dalam melihat, merasa, dan merefleksikan fenomena terhadap segala sesuatu yang melingkupinya.
Beberapa produk tulisan, baik artikel esai, ilmiah, maupun berita, dihasilkan dari proses pengamatan. Perbedaan hanya terletak pada metode pengamatannya. Artikel esai ditulis melalui penataan argumen dengan berbagai bukti secara mengalir. Tujuan utamanya, agar ide penulis dapat diterima pembaca dengan nyaman.
Sementara, tulisan ilmiah disusun berdasarkan pengamatan yang tersistem sesuai tahapan yang telah diatur dalam metode penelitian. Kerja penelitian merupakan proses verifikasi terhadap sebuah asumsi yang dilandasi teori. Setelah kita berasumsi terhadap fenomena dengan landasan teori dan hendak membuktikannya, kerja ilmiah menjadi senjata utama. Kerja ilmiah itu biasanya dilakukan dengan pengamatan lansung ke lapangan, dengan bantuan pelbagai sumber lain seperti dokumen tertulis dan hasil wawancara.
Pengamatan langsung di lapangan akan menghasilkan data primer. Sementara, penelusuran dokumen tertulis dan wawancara para aktor akan menghasikan data skunder. Artikel ilmiah merupakan hasil pendokumentasian data-data tersebut. Peneliti yang menghasilkan data-data ilmiah ini disebut sebagai ilmuwan. Kebaruan dan inovasi biasanya menjadi nilai yang diutamakan oleh ilmuwan.
Tak jauh beda dengan artikel ilmiah, berita juga ditulis berdasarkan proses verifikasi fakta. Perbedaanya hanya pada kemapanan metodologis yang menyertainya. Produk jurnalistik disusun dengan proses observasi dan wawancara. Hanya saja, prosesnya tidak terpaku pada metodologi ilmiah. Itu sesuai dengan nilai utama berita itu sendiri, yakni faktualitas dan informatif.
Persamaan paling mendasar dari produk-produk scripta tersebut terletak pada prinsip kebenaran yang diusung. Baik artikel ilmiah maupun berita, keduanya sama-sama menyampaikan kebeneran kepada khalayak. Kebenaran yang harus disampaikan oleh penulis, baik jurnalis maupun peneliti adalah kebenaran yang diperoleh dari proses verifikasi fakta untuk pembuktian yang terpercaya, bukan kebenaran absolut atau filosofis. Oleh karenaya, tidak berlebihan kiranya jika penulis disebut sebagai ilmuwan. [*]